Daihatsu Ayla Kehadiran mobil listrik murah di bawah Rp200 juta, kini menjadi fenomena nyata di pasar otomotif Indonesia. Model-model EV murah mulai membanjiri segmen entry level dan langsung menarik perhatian konsumen yang sebelumnya hanya melirik LCGC. Kondisi ini memunculkan pertanyaan seperti apakah mobil listrik ultra-terjangkau akan menggerus pasar mobil murah konvensional? Marketing and Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor, Sri Agung Handayani, memberikan tanggapan hati-hati terhadap dinamika tersebut. Ia menyebut pihaknya belum dapat memastikan apakah penetrasi mobil listrik murah akan menggoyang dominasi LCGC.“Kalau menggerus saya tidak tahu ya, karena kami tidak dan belum melakukan survei berkaitan dengan ini,” ujar Sri Agung di ICE BSD, Tangerang, Jumat 21 November 2025. Meski demikian, ia menekankan bahwa pasar LCGC memiliki karakter pembeli yang sangat spesifik. Berdasarkan data Daihatsu, sekitar 70 hingga 80 persen konsumennya adalah first car buyer, atau pembeli mobil pertama yang terkenal paling teliti soal biaya kepemilikan.“First car buyer itu belum beli sudah mikirin jual. Belum beli sudah mikirin gimana ngerawatnya,” kata dia. Karakter ini membuat LCGC masih sangat relevan bagi jutaan konsumen. Mereka mengejar mobil dengan harga beli terjangkau, biaya perawatan murah, dan nilai jual kembali yang aman. Konsep ini berbeda dengan sebagian pembeli EV murah yang lebih terdorong rasa penasaran terhadap teknologi baru dan biaya operasional harian yang rendah. Agung menilai, meski harga mobil listrik kini sudah memasuki wilayah yang sama dengan LCGC, keduanya tidak otomatis saling menyingkirkan. Menurutnya, masing-masing segmen tetap punya peran penting dalam pasar otomotif nasional yang sangat beragam. “Bagaimana antara LCGC dengan kendaraan elektrifikasi walaupun memiliki range harga yang sama, saya rasa keduanya memiliki sama-sama peran positif di market otomotif Indonesia,” ujarnya.Ia melihat bahwa penetrasi kendaraan listrik murah justru memperluas pilihan masyarakat, bukan menggantikan LCGC secara langsung. Dengan mayoritas pembeli mobil pertama masih mempertimbangkan daya beli, biaya perawatan, hingga resale value, LCGC dinilai masih akan bertahan kuat.Sementara itu, elektrifikasi murah membuka pintu baru bagi konsumen yang ingin menjajal teknologi ramah lingkungan tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu tinggi.“Saya rasa keduanya memiliki sama-sama peran positif di market otomotif Indonesia,” tuturnya.Pasar otomotif Indonesia pun diprediksi semakin dinamis, dengan LCGC dan EV murah berjalan berdampingan memenuhi kebutuhan segmen pembeli yang berbeda.