Fenomena pengendara motor yang nekat menerobos palang pintu pelintasan kereta api masih marak terjadi di Indonesia. Padahal, risiko nyawa menjadi taruhannya dan contoh kecelakaan maut sudah sering tersaji di depan mata. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, perilaku nekat ini merupakan indikator rendahnya kesadaran masyarakat akan keselamatan. Ia bahkan menyebut mayoritas pengguna jalan di Indonesia memiliki "mindset balita" dalam mengelola risiko. "Mindset balita itu naluri mereka tentang mengelola risiko bukan diperoleh dari pembelajaran, buku, atau penjelasan orang tua. Mereka baru akan belajar setelah merasakan sendiri," ujar Jusri kepada Kompas.com, Sabtu (2/5/2026). Sejumlah pemotor menerobos palang pintu pelintasan sebidang. Jusri menganalogikan perilaku ini seperti seorang anak kecil yang melihat api lilin. Meskipun sudah dilarang oleh orang tuanya karena panas, sang anak cenderung tetap penasaran dan akan menyentuh api tersebut saat orang tuanya lengah. "Begitu dipegang, dia kesakitan dan nangis. Besok-besok, dekat satu meter saja dia tidak berani. Dia baru kapok setelah merasakan kesakitan. Pengendara kita juga begitu, sudah tahu dipalang, tetap dibuka. Baru akan berhenti kalau sudah tertabrak," ucap Jusri. Menurutnya, rendahnya tingkat literasi keselamatan ini diperparah oleh faktor lingkungan dan edukasi yang lemah sejak dini. Tidak jarang anak-anak melihat orang tua mereka memberikan contoh buruk, seperti ikut mengangkat palang pintu perlintasan yang sudah tertutup. Jusri menekankan bahwa ketertiban sebenarnya bisa diciptakan jika ada penegakan hukum yang tegas tanpa pengecualian. Ia mencontohkan bagaimana warga Indonesia (TKI) bisa menjadi sangat disiplin saat berada di luar negeri seperti Singapura. "Warga kita di luar negeri itu paling tertib karena mereka takut dipenjara, takut denda, atau diusir. Tapi begitu mendarat di bandara dalam negeri, perilaku melanggar aturan kembali muncul karena penegakan hukum kita masih reaktif, bukan proaktif," kata dia. Jusri berharap keselamatan jangan hanya dianggap sebagai kewajiban karena adanya petugas, melainkan harus menjadi kebutuhan dan gaya hidup bagi setiap pengguna jalan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang