Ada satu fenomena unik yang sering terjadi di Indonesia: pelanggar lalu lintas justru lebih galak saat ditegur pengendara lain. Padahal, teguran seharusnya membuat mereka lebih sadar pentingnya keselamatan di jalan raya.Pakar keselamatan berkendara dari Training Safety Defensive Consultant (SDCI), Sony Susmana mengatakan, pengendara di Indonesia kebanyakan sumbu pendek. Sehingga, mereka justru 'meledak' ketika ditegur saat membuat pelanggaran di jalan raya. "Karena pengendara di Indonesia rata-rata sumbu pendek, egonya tinggi, sehingga kalau diperingati tidak mau. Jangankan kita, polisi aja mereka lawan. Jadi kita tegur dengan baik-baik, tapi tidak provokatif," ujar Sony Susmana saat dihubungi detikOto, dikutip Senin (16/2).Merokok di Sepeda Motor Foto: Rangga RahardiansyahMeski demikian, kata Sony, bukan berarti kita cuek saat melihat pelanggaran di jalan raya. Menurutnya, kita tetap harus menegurnya dengan kalimat dan intonasi yang santun. Bukan membentak atau melontarkan makian."Menurut gue itu (menegur pelanggar lalu lintas) harus dilakukan karena melanggar UU lantas, namun harus diperhatikan cara menegurnya, harus sopan, baik dan humble, jadi pengendara (yang ditegur) tidak tersinggung," tuturnya.Salah satu pelanggar lalu lintas yang sering dilabeli 'sumbu pendek' adalah pengendara motor yang merokok. Bahkan, di sejumlah kasus, mereka bisa main fisik usai tak terima ditegur di jalan raya."Banyak orang berkendara sambil merokok karena pertimbangan harga rokok sedang mahal, sehingga ketika dimatikan kemungkinan rasanya berubah karena udah kena angin atau bahkan si perokok itu merasa sayang," ungkapnya.Kondisi tersebut, kata Sony, yang membuat mereka sulit dinasehati. Jangankan diminta berhenti, ditegur saja mereka bisa 'terbakar'."Tapi ada satu yang berbahaya, ketika mereka berkendara sambil ngerokok. Ketika abu rokok terbawa angin dan terkena mata pengendara lain atau yang ada di sekitar jalan, ini menyebabkan kerusakan fisik permanen atau sesaat," kata dia.