Salah satu hal yang kerap terjadi saat arus balik Lebaran, adalah bertambahnya barang bawaan yang jika tidak diatur dengan baik bisa membahayakan perjalanan. Karena banyaknya barang, tak sedikit yang membawa barang hingga ke atap mobil, bahkan hanya diikat menggunakan terpal dan tambang. Cara ini dinilai berisiko karena bisa mengganggu kestabilan kendaraan, apalagi saat melaju dalam kecepatan tinggi. Ilustrasi arus mudik Lebaran. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengingatkan agar pengendara tidak memaksakan membawa barang berlebih. "Sebisa mungkin tidak menaruh barang bawaan di atap. Bila memang sudah tidak muat, jangan dipaksa dibawa. Jika tidak terlalu penting bisa dikirim pakai paket," ujar Jusri kepada Kompas.com, yang dihubungi belum lama ini. Namun jikalau harus membawa barang tambahan, Jusri mengatakan, sebaiknya menggunakan perangkat yang tepat, seperti roof box yang dirancang khusus. “Kalaupun memang harus dibawa, sebaiknya menggunakan roof box atau kontainer di atas kendaraan. Gunakan perangkat yang benar, yang memang dirancang khusus, lengkap dengan rel (roof rail) dan boks yang aman,” katanya. Roof Box Whale Carrier Penggunaan boks di atap mobil pun tidak bisa sembarangan. Penempatan barang harus diperhatikan agar tidak mengganggu keseimbangan kendaraan. "Penempatannya juga harus diperhatikan agar tetap stabil dan tidak mengganggu keseimbangan kendaraan,” katanya. Ilustrasi rekayasa lalu lintas contraflow saat mudik Lebaran 2026 Selain itu, gaya berkendara juga perlu disesuaikan. Beban tambahan di atap mobil akan memengaruhi karakter kendaraan, sehingga pengemudi harus lebih berhati-hati. "Selain itu, jika menggunakan roof box seperti ini, kecepatan kendaraan juga harus disesuaikan atau dikurangi demi menjaga keselamatan selama perjalanan,” ujar Jusri. Jusri menambahkan, semakin berat beban kendaraan, maka performa mobil juga akan terpengaruh, baik dari sisi pengendalian maupun konsumsi bahan bakar. "Satu yang pasti, dengan berat yang bertambah maka handling mobil juga akan berkurang. Konsumsi bahan bakar juga akan lebih boros karena beban mobil yang lebih berat,” katanya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang