Wacana kebangkitan kembali program mobil nasional (mobnas) menuai sorotan dari berbagai pihak, termasuk Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, mengatakan, pasar otomotif Indonesia dinilai masih sangat potensial. “Kalau saya kita melihatnya gini, penduduk kita 280 juta kan. Paling gede di ASEAN nih. Rasio kepemilikan mobil kita 99 mobil per 1.000 penduduk. Malaysia yang penduduknya 30 juta rasio kepemilikannya sudah 490-an mobil per 1.000 penduduk kan,” ujar Kukuh, kepada Kompas.com (10/9/2026). Kendati demikian, Kukuh mengingatkan bahwa tantangan terbesar dari proyek mobnas bukanlah proses produksinya, melainkan pemasarannya. Presiden RI Prabowo Subianto memamerkan cikal bakal mobil nasional Tantangan dan Skala Ekonomi Menurut Kukuh, memproduksi kendaraan merupakan hal yang relatif mudah, tetapi memastikan produk tersebut laku di pasaran dan berkelanjutan adalah perkara berbeda. “Kalau kita mau bikin mobil nasional silakan saja tapi tolong dipikirkan, bikin mobil gampang. Saya bukan gampangin, tapi bikin mobil yang bisa laku dijual itu satu hal yang berbeda lagi. Karena kemudian ada jaringan network-nya kan,” ucap Kukuh. Ia juga mengatakan, agar modal bisa kembali (breakeven point/BEP), sebuah pabrikan harus memproduksi setidaknya 350.000 hingga 400.000 unit per tahun untuk satu jenis kendaraan saja. Selain itu, biaya riset dan pengembangan (research and development) sangatlah masif. Pindad Maung 4x4 “Saya pernah di GM (General Motors) ya, yang namanya biaya engineering cost-nya GM itu sama dengan 1 tahun APBN negara kita. Hanya untuk engineering. Gede banget untuk R&D, pengembangan, tes dan sebagainya kan,” kata Kukuh. “Jadi saya enggak tahu (pengembangan mobnas), kita enggak pernah ngomongin itu. Tapi kita mendukung silakan kalau mau bikin mobil nasional,” ujarnya. TMI mendapat mandat Presiden RI kembangkan mobil nasional dengan IP lokal, target produksi massal pada 2027-2028. Belajar dari Peta Jalan Negara Tetangga Menanggapi dinamika tersebut, Kementerian Perindustrian sebelumnya menegaskan bahwa merintis industri otomotif nasional membutuhkan proses panjang yang konsisten. Dirjen ILMATE Kemenperin, Setia Diarta, mencontohkan perjalanan Proton asal Malaysia yang memulai langkahnya lewat perakitan sederhana. “Kami sampaikan terkait dengan Mobnas ataupun Molinas. Jika diperkenankan, kami memberi contoh terkait dengan apa yang dilakukan oleh negara tetangga ketika mereka menginisiasi Proton pertama kali sebagai mobil nasional itu di tahun '91, itu sifatnya baru CKD saja dengan merek Mitsubishi, bawa bulat-bulat ganti emblem,” ujar Setia dalam rapat dengar pendapat Panja Komisi VII DPR RI (9/9/2026). Esemka Bima di IIMS 2023 Dari langkah awal tersebut, butuh waktu puluhan tahun hingga akhirnya mereka benar-benar mandiri secara teknologi. “Di tahun '91 mereka butuh waktu 20 tahun untuk melakukan desain sendiri sampai itu full manufacturing sendiri di Proton. Begitu juga Perodua mulai di tahun '93/'96 itu membawa nama brand Daihatsu, baru 10 tahun kemudian mereka baru berhasil mendesain,” katanya.