Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penerapan bahan bakar campuran etanol 10 persen atau E10 dapat dilakukan pada 2028 atau lebih cepat. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menekan impor bensin sekaligus memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan di sektor transportasi. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengatakan, pemerintah telah menyiapkan tahapan menuju penerapan mandatori bioetanol secara nasional. Konsumsi bensin dan bioetanol per-tahun “Sesuai arahan, kami memprediksi pada 2028 atau lebih cepat sudah bisa dilakukan mandatori E10,” ujarnya dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI yang disiarkan secara daring, Selasa (11/11/2025). Penerapan bioetanol sebenarnya bukan hal baru. Pemerintah bersama Pertamina telah melakukan uji pasar sejak 2023 dengan mencampurkan lima persen etanol ke dalam bensin. Produk hasil uji coba tersebut kini dijual dengan nama Pertamax Green 95 di 146 SPBU yang tersebar di wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Tahapan selanjutnya akan dituangkan dalam keputusan menteri sebagai turunan dari Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati. “Tahapan menuju mandatori etanol sedang disiapkan sebagai turunan dari Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025, dan nantinya akan dituangkan dalam bentuk keputusan menteri,” ujarnya. Kandungan etanol dalam BBM Pertamina mencapai 5 persen, etanol adalah salah satu jenis alkohol. Menurut Eniya, pengembangan bioetanol memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan kebutuhan bensin yang masih tinggi dan kapasitas produksi dalam negeri yang terbatas, campuran etanol dinilai bisa membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor. Berdasarkan data ESDM, impor bensin mencapai sekitar 22,8 juta kiloliter per tahun, sementara produksi domestik baru 13,84 juta kiloliter. “Dengan penerapan campuran etanol 5 persen saja, sebagian impor itu sudah bisa disubstitusi,” katanya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.