Pemerintah mulai mematangkan rencana penerapan bahan bakar campuran bioetanol 20 persen atau E20 yang ditargetkan berlaku pada 2028. Kebijakan ini disiapkan sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada BBM berbasis fosil sekaligus memperkuat fondasi ketahanan energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, langkah tersebut bukan tanpa dasar. Tetapi berkaca pada keberhasilan program biodiesel di sektor solar yang dinilai mampu menekan impor sekaligus menggerakkan industri dalam negeri. Konsumsi bensin dan bioetanol per-tahun “Dari hasil kunjungan dan pembelajaran di luar negeri, terlihat bahwa pemanfaatan bioetanol bisa dioptimalkan, termasuk di Indonesia,” ujar Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa yang disiarkan daring, Minggu (3/5/2026). Indonesia sendiri dinilai punya modal kuat untuk mengembangkan bioetanol. Bahan bakunya relatif melimpah, mulai dari tebu, jagung, hingga singkong yang tersebar di berbagai daerah. Jika dikelola optimal, program ini tak hanya berdampak pada energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi di sektor pertanian. Meski begitu, pemerintah tidak menutup kemungkinan impor untuk menutup kebutuhan awal. Opsi tersebut diposisikan sebagai solusi sementara sembari meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri. Berdasarkan perhitungan awal, kebutuhan bioetanol untuk mendukung E20 diperkirakan menyentuh 8 juta kiloliter pada 2028. Angka ini cukup signifikan jika dibandingkan dengan impor BBM saat ini yang masih berada di kisaran 20 juta kiloliter. Kemenhut meresmikan projek pilot bioetanol dari aren Pertamina NRE. “Kalau E20 berjalan, kebutuhan impor bisa berkurang karena sebagian digantikan oleh bioetanol,” kata Bahlil. Bahlil menegaskan, rencana ini telah melalui berbagai tahapan kajian teknis. Selain itu, sejumlah negara seperti India, Thailand, dan Amerika Serikat juga telah lebih dulu mengadopsi kebijakan serupa. Dengan demikian, penerapan E20 diharapkan bisa menjadi salah satu strategi konkret pemerintah dalam mendorong kemandirian energi sekaligus menciptakan ekosistem energi yang lebih berkelanjutan di Indonesia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang