Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memastikan bahwa kendaraan yang diproduksi sejak tahun 2000 sudah dirancang agar kompatibel dengan bahan bakar campuran etanol (E10). Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menjelaskan bahwa secara teknis kendaraan yang beredar sejak dua dekade terakhir sudah siap menggunakan bahan bakar campuran tersebut. Demikian disampaikannya dalam Diskusi Publik tentang Menakar Dampak Etanol Terhadap Kualitas BBM: Fakta, Tantangan, dan Harapan Masyarakat, yang digelar di Universitas Indonesia (UI), Jakarta, Jumat (7/11/2025). Diskusi Publik tentang Menakar Dampak Etanol Terhadap Kualitas BBM: Fakta, Tantangan, dan Harapan Masyarakat, yang digelar di Universitas Indonesia, Jakarta, Jumat (7/11/2025). “Sebetulnya kendaraan yang sudah diproduksi semenjak tahun 2000 itu sudah matang atau sudah kompatibel dengan etanol E10,” ujar Kukuh. Ia menambahkan, pengembangan menuju penggunaan bahan bakar dengan campuran etanol lebih tinggi juga tengah disiapkan oleh pemerintah dan industri otomotif. “Sekarang kan kita sudah maju sampai E5 ya, ini sudah ada. Tetapi belum bisa diterapkan secara menyeluruh baru terbatas di Jakarta dan Surabaya. Nanti ini akan semakin luas lagi sehingga akan terjadi dampak positif yang besar," kata dia. Menurut Kukuh, langkah tersebut sejalan dengan upaya pemerintah menekan emisi gas buang melalui berbagai program kendaraan rendah emisi. “Jadi existing, kita berupaya mengurangi emisi gas buang, makanya ada LCGC, kemudian itu yang dikembangkan menjadi LCEV, low carbon emission vehicles,” ujarnya. Diskusi Publik tentang Menakar Dampak Etanol Terhadap Kualitas BBM: Fakta, Tantangan, dan Harapan Masyarakat, yang digelar di Universitas Indonesia, Jakarta, Jumat (7/11/2025). Pernyataan Kukuh sejatinya memperkuat penjelasan dari Guru Besar Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Universitas Pertamina, Iman Kartolaksono Reksowardojo, yang sebelumnya menyebut bahwa mobil produksi tahun 2000 ke atas umumnya sudah kompatibel dengan E10. Menurut Iman, kemajuan teknologi material dan sistem pembakaran sejak tahun 2000 membuat komponen mesin seperti sil dan pipa bahan bakar lebih tahan terhadap pelarut seperti etanol. Dengan demikian, risiko kerusakan atau korosi pada mesin dapat diminimalisir. "Kalau ada masalah pun tinggal ganti gasket atau atur pengapiannya, selesai. Engine bisa menyesuaikan dari pabrikan," jelasnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.