Melemahnya nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.300 per dolar AS biasanya menjadi faktor yang memicu kenaikan harga kendaraan. Namun, Jetour memastikan hal tersebut tidak langsung berdampak pada harga jual produknya di Indonesia. Moch Ranggy Radiansyah, Marketing Director PT Jetour Sales Indonesia, mengatakan bahwa pihaknya tetap berkomitmen menjaga harga tetap kompetitif di tengah tekanan ekonomi global. Di Beijing Auto Show 2026, Jetour memamerkan sejumlah model andalan, mulai dari Jetour T2 i-DM hingga Jetour G700. "Terkait makro ekononomi, kami komitmen menghadirkan kendaraan dengan pricing (harga) yang kompetitif," kata Ranggy di Beijing (24/4/2026). Menurutnya, strategi penetapan harga Jetour sudah mempertimbangkan berbagai skenario ke depan, termasuk fluktuasi nilai tukar. Hal ini membuat perusahaan tidak perlu terburu-buru melakukan penyesuaian harga saat terjadi gejolak ekonomi. Booth Jetour di Beijing Auto Show 2026 "Jadi komitmen kami masih dengan harga yang sudah kami umumkan, belum ada diskusi untuk penyesuaian (harga)," ucap dia. Salah satu faktor yang mendukung stabilitas harga ini adalah perakitan lokal (CKD) untuk beberapa model Jetour di Indonesia. Dengan produksi dalam negeri, dampak pelemahan rupiah terhadap biaya impor bisa ditekan. Saat ini, Jetour memasarkan beberapa model di Indonesia, seperti Jetour T2 mulai Rp 588 juta, Jetour Dashing mulai Rp 348,8 juta, dan Jetour X70 Plus mulai Rp 359,8 juta. Dengan strategi harga yang sudah diproyeksikan jangka panjang serta fokus pada efisiensi produk, Jetour mencoba menjaga daya beli konsumen tetap terjaga, meski tekanan ekonomi dan kenaikan BBM terus menjadi tantangan di pasar otomotif nasional. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang