Sebagian pengendara kerap mengisi bahan bakar kendaraan di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dengan merek berbeda. Hal ini biasanya terjadi karena faktor lokasi, ketersediaan BBM, atau sekadar menyesuaikan harga. Kondisi tersebut mungkin menimbulkan tanya apakah sering berganti merek bahan bakar dapat berdampak pada performa maupun kesehatan mesin dalam jangka panjang. Menurut Ahli Konservasi Energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto Zaenuri, secara umum penggunaan BBM dengan merek berbeda tidak menjadi masalah selama spesifikasi bahan bakarnya sama dan memenuhi standar yang berlaku di Indonesia. "Selama bahan bakar tersebut memenuhi spesifikasi yang ditetapkan pemerintah, misalnya sesuai standar dari Dirjen Migas, maka secara prinsip aman digunakan meskipun mereknya berbeda-beda," kata Tri kepada Kompas.com, Sabtu (7/3/2026). Tri menjelaskan, setiap jenis BBM yang dijual di Indonesia memiliki standar kualitas tertentu, seperti angka Research Octane Number (RON) yang harus dipenuhi. Artinya, selama pengendara menggunakan BBM dengan RON yang sama sesuai rekomendasi pabrikan kendaraan, maka performa mesin pada dasarnya tidak akan mengalami masalah berarti. SPBU Pertamina 34.17146 Juanda di Jalan Insinyur H. Juanda, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, masih belum beroperasi hingga Rabu (4/3/2026). Ia menambahkan, dalam beberapa kondisi bahkan sumber bahan bakar yang digunakan oleh SPBU berbeda merek bisa saja berasal dari suplai yang sama. Perbedaannya biasanya terletak pada paket aditif yang ditambahkan oleh masing-masing perusahaan. "Aditif ini umumnya berfungsi untuk menjaga kebersihan komponen mesin, seperti ruang bakar atau katup masuk. Namun, aditif tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap performa utama mesin," ujar Tri. Meski demikian, pengendara yang cukup sensitif terhadap performa kendaraan mungkin merasakan perbedaan kecil saat menggunakan BBM dari merek tertentu. Perbedaan tersebut bisa berupa tarikan mesin yang terasa sedikit berbeda atau tingkat konsumsi bahan bakar yang berubah. Namun secara umum, Tri menegaskan bahwa mengganti merek BBM tidak akan merusak mesin selama kualitas bahan bakar sesuai standar dan angka oktannya tetap mengikuti rekomendasi pabrikan kendaraan. Karena itu, pemilik kendaraan disarankan tetap memprioritaskan penggunaan BBM dengan nilai RON yang sesuai dengan spesifikasi mesin. Dengan begitu, kinerja mesin tetap optimal sekaligus menjaga efisiensi bahan bakar dan emisi kendaraan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang