JAKARTA, KOMPAS.com – Impor kendaraan niaga dari India untuk operasional program Koperasi Desa Merah Putih memicu perhatian di industri otomotif nasional, terutama di tengah klaim kemampuan produksi dari sejumlah pabrikan yang telah berinvestasi di Indonesia. Kendaraan yang dimaksud adalah pikap Mahindra Scorpio Pikap yang diimpor oleh PT Agrinas Pangan Nusantara. Sejumlah unit kendaraan dilaporkan telah tiba di Indonesia dan mulai didistribusikan ke beberapa daerah untuk mendukung kegiatan operasional pengangkutan hasil pertanian. Menanggapi hal tersebut, Wuling Motors mengatakan pihaknya telah memiliki kendaraan komersial ringan yang diproduksi secara lokal di Indonesia. Marketing Director Wuling Motors Ricky Christian mengatakan perusahaan juga memiliki fasilitas produksi di Indonesia yang mampu memproduksi berbagai model kendaraan, termasuk kendaraan komersial seperti pikap. “Wuling memiliki pabrikan lokal di Indonesia untuk memproduksi berbagai kendaraan, termasuk kendaraan niaga. Jadi sebenarnya kami juga memiliki produk di segmen komersial yang bisa dipasarkan apabila memang dibutuhkan,” kata Ricky di Jakarta, Jumat (13/3/2026). Saat ini Wuling memasarkan kendaraan niaga ringan berupa pikap melalui model Wuling Formo Max yang diposisikan sebagai kendaraan pengangkut barang untuk sektor usaha kecil hingga menengah. Wuling Formo Max Secara spesifikasi, Wuling Formo Max menggunakan mesin bensin 1.500 cc yang mampu menghasilkan tenaga sekitar 98 tk dengan torsi 140 Nm. Mobil pikap ini memiliki dimensi panjang sekitar 5.135 mm, lebar 1.725 mm, dan tinggi 1.740 mm, dengan ukuran bak 2.695 mm x 1.725 mm x 390 mm yang dirancang untuk kebutuhan distribusi barang. Kendaraan ini juga diproduksi secara lokal di pabrik Wuling di Cikarang, Jawa Barat. Ricky menjelaskan, sejak awal masuk ke Indonesia Wuling telah membangun pabrik dengan kapasitas produksi yang cukup besar. Fasilitas tersebut mampu memproduksi kendaraan hingga sekitar 120.000 unit per tahun. Dengan kapasitas tersebut, secara teori masih tersedia ruang produksi untuk mengakomodasi tambahan permintaan apabila dibutuhkan oleh pasar. Namun demikian, Ricky menegaskan bahwa industri otomotif memiliki sistem produksi berbasis perencanaan permintaan atau make to stock. Artinya, produksi kendaraan umumnya disesuaikan dengan proyeksi kebutuhan pasar yang telah diperkirakan sebelumnya. “Kalau misalnya ada permintaan dalam jumlah besar tentu ada proses yang harus disiapkan, termasuk waktu untuk menyiapkan material dan komponen. Jadi tidak bisa langsung diproduksi secara instan,” ujarnya. Meski demikian, Ricky mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima komunikasi atau penawaran resmi terkait kemungkinan pengadaan kendaraan untuk program tersebut. “Untuk saat ini kami belum ada komunikasi terkait hal itu. Tapi pada prinsipnya kami terbuka apabila ada kebutuhan yang sesuai dengan produk yang kami miliki,” kata Ricky. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang