Media sosial baru-baru ini diramaikan oleh aksi berani sejumlah anak kecil di kawasan Jakarta Barat. Dalam video yang diunggah oleh akun Instagram @warga.jakbar, anak-anak tersebut nekat menghadang para pengendara sepeda motor yang masuk ke trotoar untuk menghindari kemacetan di Jalan Raya Daan Mogot, dekat Halte Pulo Nangka. Akibat aksi tersebut, para pemotor yang bandel akhirnya dipaksa untuk putar balik. Menanggapi fenomena ini, pakar keselamatan berkendara pun angkat bicara. Lemahnya Etika Berkendara dan Risiko Konflik Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, para pengendara yang melanggar aturan tersebut seharusnya malu. Menurutnya, sekecil apa pun pelanggaran yang dilakukan, mengambil jalan pintas dengan melewati pedestrian telah merampas hak pejalan kaki dan membahayakan keselamatan. "Kebiasaan ini timbul akibat kondisi jalan yang macet. Tapi itu bukan alasan, karena yang lain pun sama-sama bermacet-macetan. Ini murni karena ingin cepat sampai serta lemahnya etika berkendara," ujar Sony saat dihubungi Kompas.com, Kamis (16/7/2026). Meski mengapresiasi pesan moral di balik aksi tersebut, Sony menilai langkah menghadang pemotor sebaiknya tidak dilakukan oleh anak-anak demi menghindari konflik di lapangan. "Untuk menghindari konflik, sebaiknya tidak anak-anak yang menghadang karena terlihat bercanda dan tidak tegas," kata Sony. Pengendara motor yang melintasi trotoar Jalan Matraman Raya, Rabu (14/1/2026). Pentingnya Edukasi Sejak Dini dan Peran Orang Tua Senada dengan Sony, Head of Safety Riding Promotion Wahana Agus Sani mengungkapkan bahwa sampai saat ini masih banyak pengendara yang menganggap pelanggaran lalu lintas sebagai hal yang biasa. Masalah utamanya terletak pada kurangnya pemahaman tentang aturan lalu lintas dan cara berkendara yang aman. Agus menekankan bahwa edukasi keselamatan berkendara (safety riding) sudah sepatutnya ditanamkan sejak dini melalui jalur formal. "Padahal, jika anak-anak dibekali sejak sekolah, saat dewasa mereka akan lebih memahami aturan lalu lintas dan memiliki budaya berkendara yang aman," kata Agus. Selain pendidikan di sekolah, Agus juga menyoroti peran krusial orang tua sebagai contoh utama bagi anak. Nyatanya, masih banyak orang tua yang justru mencontohkan pelanggaran lalu lintas saat sedang membonceng anak mereka. Tanpa disadari, kebiasaan buruk ini akan ditiru oleh anak ketika mereka dewasa kelak. Butuh Ketegasan Petugas di Lapangan Melihat fenomena penyerobotan trotoar yang kian meresahkan dan mengganggu kenyamanan pejalan kaki, Agus sepakat bahwa tindakan tegas berupa teguran dan imbauan harus terus dilakukan agar pelanggaran tidak dianggap sebagai hal yang lumrah. Namun, ia menggarisbawahi bahwa aksi penertiban ini idealnya diserahkan kepada pihak yang berwenang, bukan oleh warga sipil ataupun anak-anak. "Kalau memang meresahkan masyarakat, sebaiknya ada petugas yang mempunyai kewenangan untuk menegur pengendara. Hal ini penting agar tidak menimbulkan perdebatan dan konflik di lokasi kejadian," kata Agus.