Belum lama ini, sekelompok orang mengeklaim sudah menemukan bahan bakar baru dari tumbuhan yang diberi nama Bobibos. Bensin ini masih banyak dipertanyakan hingga saat ini. Bobibos diklaim merupakan bahan bakar alternatif yang berasal dari tumbuhan, yang dikembangkan selama lebih dari 10 tahun. Bensin ini disebutkan memiliki nilai oktan hingga RON 98. Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB), mengatakan, belum jelas terkait kandungan Bobibos. Sebab, inisiator belum memberikan informasi detail. Ilustrasi mobil dengan bahan bakar bioetanol "Tapi, sekilas itu bioetanol, yang disebut sebagai bensin, dan biodiesel, yang disebut sebagai solar," ujar pria yang akrab disapa Puput, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. "Tapi, saya enggak tahu realitasnya dicampur BBM fosil atau tidak, kita belum tahu. Karena sekali lagi, inisiator tidak menyampaikan detail," kata Puput. Puput menambahkan, kasus seperti ini sudah sering ada atau muncul. Tetapi kemudian menghilang, karena beberapa hal. "Pertama, belum melalui uji lab apakah laik secara teknis bagi kendaraan. Kedua, tidak ada investor yang mau mengkomersialisasikan. Ketiga, pemerintah tidak mau repot, atau terpengaruh oleh importir oli, jadi buru-buru divonis tidak laik secara teknis ekonomis," ujarnya. Puput mengatakan, dirinya menyarankan kepada produsen Bobibos untuk mendeklarasi spesifikasi hasil lab atau komposisi dari temuan bahan bakar tersebut. Toyota uji bioethanol E10 bersama Pertamina dan Sera Puput meyakini bensin tersebut adalah bioetanol. Pasalnya, secara alamiah, bioetanol punya RON tinggi, bisa 110-130. Apalagi, kalau hanya menghasilkan RON 98 dari etanol sangat mudah. "Namun, ongkos produksi selalu jadi masalah. Untuk saat ini, bisa di atas Rp 16.000 per liter. Kalau klaimnya harga lebih murah, ya perlu dikonfirmasi lagi," kata Puput. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.