Lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) membuat sebagian pemilik kendaraan mencari berbagai cara untuk menekan konsumsi bahan bakar. Salah satu cara yang sudah lama beredar adalah memasang magnet pada saluran bahan bakar. Perangkat ini banyak dipasarkan sebagai fuel saver atau fuel catalyst dan diklaim membuat konsumsi BBM lebih irit. Cara penggunaannya relatif sederhana. Magnet atau perangkat sejenis biasanya dipasang atau dijepit pada bagian luar selang bahan bakar, sebelum BBM masuk ke sistem injeksi atau karburator. Cek kerusakan mobil dari suara mesin. Ilustrasi mesin mobil knocking atau ngelitik. Dengan pemasangan seperti itu, pemilik kendaraan tidak perlu membongkar mesin atau mencampurkan cairan tertentu ke dalam tangki. Bagaimana cara kerja magnet penghemat BBM diklaim? Klaim yang ditawarkan produk semacam ini umumnya berkaitan dengan medan magnet yang disebut dapat memengaruhi karakteristik bahan bakar. Bahan bakar yang melewati area tersebut diklaim mengalami perubahan sehingga lebih mudah bercampur dengan udara. Pada akhirnya, proses pengabutan atau atomisasi bahan bakar disebut menjadi lebih baik dan pembakaran di ruang bakar menjadi lebih sempurna. Secara sederhana, logika yang ditawarkan adalah magnet dipasang di saluran BBM, kemudian bahan bakar melewati medan magnet, karakteristik BBM diklaim berubah, pencampuran dengan udara membaik sehingga pembakaran lebih sempurna, konsumsi BBM menjadi lebih irit. Namun klaim tersebut perlu dibedakan dari fakta bahwa kendaraan benar-benar mengalami penurunan konsumsi BBM. Kompartemen mesin mobil merujuk pada area di bawah kap mesin (bonnet) yang menjadi rumah bagi berbagai komponen vital penggerak kendaraan. Apa pandangan para ahli mengenai klaim ini? Pemilik Bengkel Kafka di Bogor, Kamal, menilai perangkat magnet yang dipasang pada saluran BBM tidak memberikan pengaruh seperti yang diklaim. "Kalau magnet yang seperti itu macam-macam kan jenisnya ya. Kalau menurut saya, non sense," katanya kepada Kompas.com, Kamis (1/10/2026). Pendiri dan pemilik Dokter Mobil, Thayne Finsenda Lika alias Ko Lung-Lung, juga mempertanyakan klaim bahwa magnet dapat mengubah bahan bakar. “Ini juga tidak bisa, karena BBM tidak terpengaruh magnet. Kata ‘katalis’ itu berarti ada sesuatu yang tercampur atau tertinggal. Jadi, istilah tersebut tidak sesuai dengan kenyataannya,” ujarnya. Pernyataan Ko Lung-Lung merujuk pada perbedaan antara magnet dan katalis dalam pengertian kimia. Katalis pada dasarnya merupakan bahan yang memengaruhi laju suatu reaksi kimia tanpa menjadi bagian yang habis dalam reaksi tersebut. Karena itu, penyebutan sebuah perangkat sebagai fuel catalyst tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa perangkat tersebut bekerja sebagai katalis kimia. Apakah ada pandangan berbeda mengenai efektivitas magnet ini? Foreman Nissan Bintaro Ibrohim memiliki pandangan berbeda, terutama ketika perangkat tersebut digunakan pada kendaraan lama yang masih menggunakan karburator. “Untuk karburator cukup efektif, karena bensin ngumpul di ruang pelampung sehingga molekul-molekulnya bisa lebih padat, nah magnet ini berfungsi untuk mengurai sehingga pengabutan di karburator menjadi lebih sempurna,” ucap Ibrohim. Ilustrasi pemasangan magnet di mobil. Namun, pandangan tersebut berbeda pada mobil yang sudah menggunakan sistem injeksi elektronik. Pada sistem injeksi, bahan bakar sudah dialirkan dengan tekanan tertentu menuju injektor. Komponen injektor kemudian mengatur penyemprotan BBM dalam jumlah dan pola yang telah ditentukan oleh sistem manajemen mesin. “Untuk mesin modern, khususnya pada injeksi yang regulatornya jadi satu dengan pompa bensin kurang efektif karena di selang atau pipa bensin dan barrel injektor sudah tersedia bensin bertekanan 3,5 kg per cm,” ucap Ibrohim. Mengapa pembuktian ilmiah sangat penting untuk klaim penghemat BBM? Perbedaan pandangan tersebut membuat pengujian menjadi bagian penting ketika membicarakan perangkat penghemat BBM. Ilustrasi etanol. Misalnya ada klaim “konsumsi BBM lebih irit 10 persen” tidak cukup hanya dibuktikan dengan membandingkan konsumsi kendaraan sebelum dan sesudah magnet dipasang. Kondisi pengujian harus diperhatikan, mulai dari jenis kendaraan, kondisi mesin, jenis BBM, rute, jarak tempuh, beban kendaraan, penggunaan AC, kecepatan rata-rata, hingga gaya berkendara. Sebab, konsumsi BBM kendaraan memang dapat berubah hanya karena kondisi penggunaan berbeda. Mobil yang digunakan dalam kemacetan, misalnya, tentu dapat mencatat konsumsi berbeda dibandingkan mobil yang digunakan di jalan lancar meski kendaraan dan bahan bakarnya sama. Begitu juga dengan kondisi kendaraan. Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran Tekanan ban, kondisi mesin, temperatur lingkungan, hingga muatan dapat memengaruhi konsumsi BBM. Karena itu, jika ingin mengetahui apakah magnet benar-benar memberikan pengaruh, pengujian idealnya dilakukan dengan kondisi yang terkontrol dan dapat diulang. Pada akhirnya, memasang magnet di saluran BBM memang relatif mudah dan tidak membutuhkan perubahan besar pada kendaraan. Namun soal apakah benar-benar mampu menghemat BBM tetap membutuhkan pembuktian yang terukur, bukan sekadar berdasarkan kesan kendaraan terasa lebih ringan atau konsumsi terlihat lebih baik.