Isu pencampuran etanol ke dalam bahan bakar minyak (BBM) kembali menguat seiring dorongan pemerintah untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan impor bensin. Kebijakan ini memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap performa kendaraan, terutama terkait tenaga mesin dan konsumsi bahan bakar. Pemerintah sebelumnya menyampaikan rencana pengembangan bioetanol sebagai campuran bensin, bahkan hingga kadar yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi transisi energi nasional di tengah tekanan harga minyak global. Menurut Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB Tri Yuswidjajanto Zaenuri, secara ilmiah penambahan etanol dalam kadar rendah tidak memberikan dampak signifikan terhadap performa mesin. "Kandungan energi etanol itu sekitar 28 megajoule per kilogram, sedangkan bensin sekitar 40 megajoule per kilogram. Kalau dicampur sekitar 3 sampai 5 persen, penurunannya hanya sekitar 1 persen," ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (31/3/2026). Tri menjelaskan, dengan komposisi tersebut, perubahan performa seperti akselerasi maupun kecepatan puncak hampir tidak terasa dalam penggunaan harian. "Penurunan sekitar 1 persen itu praktis tidak akan terasa, baik dari sisi konsumsi bahan bakar, akselerasi, maupun top speed kendaraan," kata dia. Tangki penampungan etanol. Ia menambahkan, batas toleransi penurunan performa yang diizinkan dalam standar internasional World Wide Fuel Charter bahkan mencapai 2 persen. Artinya, campuran etanol dalam kadar rendah masih berada dalam rentang aman. Meski demikian, aspek kompatibilitas tetap perlu diperhatikan. Untuk kendaraan yang sudah mengikuti regulasi emisi terbaru, penggunaan bensin campuran etanol hingga sekitar 10 persen masih dapat diterima tanpa kendala berarti. Namun, pada kendaraan yang lebih lama, terdapat potensi risiko pada material tertentu. Komponen berbahan karet alami dapat mengalami pembengkakan (swelling), sementara logam yang tidak memiliki ketahanan terhadap korosi berisiko lebih cepat rusak. Karena itu, Tri menyarankan agar implementasi kebijakan ini tetap mempertimbangkan kondisi populasi kendaraan di Indonesia. Sosialisasi dan kesiapan teknis menjadi kunci agar penggunaan BBM campuran etanol tidak menimbulkan dampak negatif di lapangan. Dengan pendekatan yang tepat, pemanfaatan etanol sebagai campuran BBM dinilai dapat menjadi solusi energi jangka panjang tanpa mengorbankan kinerja kendaraan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang