Mesin mobil turbocharger sering dianggap lebih hemat Bahan Bakar Minyak (BBM), dan anggapan ini memang ada benarnya. Komponen tersebut secara singkat bisa diartikan sebagai penambah tenaga tanpa menambahkan bobot kendaraan lebih besar. Namun, soal efisiensi sangat bergantung pada cara kerja mesin dan gaya berkendara penggunanya sehari-hari. Muchlis, pemilik bengkel Spesialis Toyota Mitsubishi, Garasi Auto Service Sukoharjo mengatakan, secara teknis turbocharger bekerja dengan memanfaatkan energi tekanan gas buang. “Gas buang yang keluar dari mesin digunakan untuk memutar turbin, sehingga energi yang biasanya terbuang bisa dimanfaatkan untuk efisiensi,” ucap Muchlis kepada KOMPAS.com, Selasa (31/3/2026). Turbin tersebut, lanjutnya, terhubung dengan turbin lain di saluran udara masuk yang berperan memampatkan udara masuk ke ruang bakar. Dengan udara yang lebih padat, jumlah oksigen meningkat dan proses pembakaran menjadi lebih efisien. Peningkatan jumlah oksigen tersebut secara otomatis menambah besaran kompresi, sehingga memungkinkan menghasilkan tenaga lebih besar dengan dukungan BBM yang sesuai. Hyundai Palisade Hybrid hadir dengan mesin turbo hybrid 2.5 liter, dilengkapi fitur premium dan teknologi canggih. “Ketika bahan bakar terbakar lebih sempurna, hasilnya, tenaga mesin meningkat tanpa harus menambah kapasitas mesin secara fisik, sehingga bobot kendaraan tak bertambah signifikan,” ucap Muchlis. Mesin berkapasitas kecil dipadukan dengan turbo agar mampu menghasilkan tenaga setara mesin yang lebih besar. Harapannya konsumsi BBM lebih rendah. Adanya turbo membantu meningkatkan efisiensi volumetrik mesin. Artinya, lebih banyak udara yang masuk ke dalam silinder, sehingga energi dari bahan bakar dapat dimanfaatkan secara maksimal. Antusiasme masyarakat terhadap Mitsubishi Destinator saat diluncurkan di Surabaya. Namun, efisiensi ini tidak selalu terjadi dalam semua kondisi. Saat pedal gas diinjak dalam, turbo akan menghasilkan tekanan tinggi atau boost yang meningkatkan kebutuhan bahan bakar. “Dalam kondisi tersebut, sistem injeksi akan menyemprotkan lebih banyak bahan bakar untuk menjaga performa. Akibatnya, konsumsi BBM justru meningkat dibandingkan mesin tanpa turbo,” ucap Muchlis. Tenaga besar tersebut, seharusnya dapat terkonversi menjadi jarak tempuh yang optimal, agar hemat BBM. Maka dari itu, gaya berkendara juga menjadi faktor penting. Ilustrasi kickdown pedal gas “Pengemudi yang sering berakselerasi agresif atau menjaga putaran mesin tinggi akan membuat mesin turbo menyedot banyak BBM, tapi waktu tempuh lebih singkat,” ucap Muchlis. Mesin turbo umumnya membutuhkan bahan bakar dengan oktan lebih tinggi untuk mendukung teknologi yang sudah dirancang efisien tinggi. “Jika menggunakan bahan bakar yang tidak sesuai, efisiensi pembakaran bisa menurun dan konsumsi BBM bisa meningkat,” ucap Muchlis. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang