Jetour T2 resmi meluncur pada November 2025. SUV bergaya boxy asal negeri Tiongkok ini dibanderol dengan harga Rp 588 juta OTR Jakarta. Secara tampilan Jetour T2 dibekali desain mengotak dengan tongkorongan yang gagah khas mobil off-road. Tampilan interior juga dibuat modern berkat kehadiran layar besar berukuran 15,6 inci. Selain itu kesan mewah juga terasa berkat panoramic sunroof. Data di atas kertas, Jetour T2 disokong mesin 2.000 cc T-GDI bertenaga 241 Hp dan torsi 375 Nm yang hadir sejak 1.750–4.000 rpm. Tenaga tersebut disalurkan melalui transmisi Dual-Clutch Transmission (7DCT) ke sistem Realtime 4WD yang sanggup beradaptasi sesuai kebutuhan medan. Saya pun diberi kesempatan untuk mengetes Jetour T2 selama beberapa hari. Pengujian termasuk penghitungan konsumsi bahan bakar SUV bermesin turbo tersebut. Untuk konsumsi bahan bakar yang diukur, meliputi rute dalam kota dan luar kota Perhitungan menggunakan MID yang ada di instrument cluster dan diisi dengan bahan bakar RON 92. konsumsi BBM Jetour T2 Hasil konsumsi bahan bakar dalam kota, Jetour T2 mendapat angka 8,5 liter kilometer per liter (kpl). Hasil ini didapat dengan mobil melaju di daerah perkotaan dengan jarak sejauh 72 Km. Gaya berkendara sehari-hari, dengan mode berkendara ECO. Kondisi jalan yang dilalui didominasi oleh macetnya jalan Ibu Kota pada jam sibuk kantor. Sedangkan untuk rute dalam kota mendapat angka 11.4 kpl, dengan jarak sejauh 281.1 Km. Angka tersebut didapat usai berkendara dengan berbagai kondisi jalan, mulai dari tanjakan dan turunan ekstrem, jalan rusak, hingga lancarnya jalur perkotaan. Untuk penggunaan fitur berkendara terbilang cukup normal di mana air conditioner (AC) mobil terus aktif pada suhu 20 derajat celsius, layar hiburan terkoneksi dengan ponsel dan tidak membuka kaca kecuali diperlukan. konsumsi BBM Jetour T2 Hasil konsumsi BBM dalam kota memang tidak bisa dibilang irit, mengingat mobil ini dibekali mesin dengan kapasitas 2.000 cc turbo dengan dimensi yang bongsor. Namun, hasil konsumsi BBM luar kota cukup masuk akal untuk mobil di segmen SUV bongsor bermesin turbo. Namun, tentu saja angka tersebut tidak bisa dijadikan patokan, mengingat banyak faktor yang memengaruhi masalah konsumsi bahan bakar, mulai dari kondisi jalan, jarak tempuh, gaya berkendara, bahan bakar yang digunakan, kondisi kendaraan, beban barang yang dibawa di kabin, dan sebagainya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang