Persaingan pasar mobil Indonesia di segmen harga di bawah Rp 300 juta semakin ramai dengan kehadiran berbagai merek asal China. Beragam model baru hadir menawarkan fitur melimpah, teknologi modern, hingga desain yang menarik untuk menggoda konsumen. Meski demikian, Daihatsu mengaku tidak mengubah strategi bisnisnya. Pabrikan asal Jepang tersebut memilih tetap fokus menggarap konsumen yang membeli mobil pertama. Marketing Director & Corporate Function Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Rokky Irvayandi mengatakan, kehadiran pemain baru justru menjadi sinyal positif bagi perkembangan industri otomotif nasional. "Sebenarnya Daihatsu, kalau kita sih melihat ada brand-brand baru, ya bagus lah, berarti ya, buat industri otomotif Indonesia," kata Rokky yang ditemui di GIIAS 2026, di ICE BSD CIty, Tangerang, belum lama ini. Daihatsu Ayla 1.2 R ADS di Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) 2025 "Daihatsu sendiri gimana? Daihatsu sebenarnya kita fokus ke segmen yang berbeda. Kita tuh main di first car buyer. Orang-orang yang membeli mobil pertama kali, yang naik dari sepeda motor. Sekitar 90 persen step up dari sepeda motor," ujarnya. Pernyataan Rokky cukup relevan jika melihat peta persaingan pasar saat ini. Sebagian besar merek China yang menawarkan mobil dengan harga di bawah Rp 300 juta bermain di segmen kendaraan listrik. Pada sisi lain, mayoritas konsumen mobil listrik di Indonesia saat ini masih berasal dari kalangan yang sudah memiliki mobil sebelumnya. Dengan kata lain, kendaraan listrik umumnya menjadi mobil kedua atau bahkan ketiga dalam sebuah keluarga, bukan mobil pertama. Daihatsu Gran Max Blind Van 1.5 M/T AC PS meluncur di GIIAS 2026 Karakter Menurut Rokky, karakter pembeli mobil pertama berbeda dengan konsumen yang sekadar membandingkan spesifikasi atau fitur kendaraan. Konsumen di segmen ini lebih mempertimbangkan kemudahan memiliki dan menggunakan mobil dalam jangka panjang. "Nah, orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak hanya mempertimbangkan mobilnya aja. Harga, iya. Mobil harga, iya. Harga harus terjangkau. Tapi setelah itu sendiri, harus bisa memberikan kemudahan," katanya. "Belinya juga harus mudah. Mudah tuh gimana? Ada di mana-mana outlet-nya. Harganya terjangkau. Kemudian, pilihan finansialnya, ya, program-program finansinya juga cukup fleksibel," ujarnya. Bukan Sekadar Harga Rokky menjelaskan, strategi Daihatsu tidak hanya menawarkan harga yang kompetitif. Menurutnya, konsumen juga membutuhkan biaya kepemilikan yang tetap terjangkau selama menggunakan kendaraan. Daihatsu Xenia di GIIAS 2026 Karena itu, Daihatsu mengandalkan jaringan diler, bengkel, serta ketersediaan suku cadang yang luas sebagai nilai tambah. "Kemudian, mudah pakai. Mudah pakai itu produknya harus kuat, efisien. Tapi, juga aftersales harus oke. Layanan purna jualnya harus ada di mana-mana. Bengkelnya harus gampang. Gampang nyarinya," katanya. "Kemudian, spare parts-nya juga harus gampang dicari. Dan harganya tetap affordable. Sampai dengan ujungnya tuh mudah dijual kembali," ujar Rokky. Selain itu, hal utama kata Rokky, selain biaya perawatan, nilai jual kembali kendaraan juga menjadi pertimbangan penting bagi pembeli mobil pertama. Sebab, sebagian konsumen biasanya akan mengganti mobilnya dengan model yang lebih tinggi setelah beberapa tahun. Daihatsu Sirion GIIAS 2026 "Produk Daihatsu dikenal dengan produk yang nanti harga jual kembalinya masih relatif tinggi," kata Rokky. "Sehingga, untuk mereka-mereka ini yang nantinya akan step up lagi ke segmen yang lebih tinggi, itu akan lebih mudah buat mereka karena harga jual kembalinya masih cukup baik. Nambahnya enggak terlalu banyak," ujarnya. Mobil < Rp 300 Juta Strategi tersebut dinilai masih relevan dengan kondisi pasar otomotif nasional. Berdasarkan data internal Daihatsu, sekitar 50 persen pasar mobil Indonesia masih berada pada segmen harga di bawah Rp 300 juta. Segmen inilah yang menjadi fokus utama Daihatsu melalui model seperti Sigra, Ayla, Gran Max, Luxio, hingga Xenia. Rokky mengatakan, dominasi di kelas tersebut masih cukup kuat. Saat ini Daihatsu menguasai pangsa pasar sekitar 33,5 persen di segmen mobil dengan harga di bawah Rp 300 juta.