Pasar otomotif Indonesia semakin ramai dengan kehadiran sejumlah merek baru, terutama dari China. Tak hanya menawarkan produk dengan teknologi dan fitur yang semakin lengkap, sejumlah merek juga bermain dengan harga yang relatif terjangkau. Kondisi tersebut membuat persaingan di pasar otomotif nasional semakin ketat, termasuk bagi merek yang sudah lama bermain di Indonesia seperti Daihatsu. Marketing Director & Corporate Function Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Rokky Irvayandi mengatakan, pihaknya menyadari adanya perubahan peta persaingan tersebut. Seperti diketahui sepanjang 2026 setidaknya ada tambahan sejumlah merek otomotif dengan puluhan model baru di pasar otomotif Indonesia. Menurut Rokky, bertambahnya pemain dan produk baru justru menjadi hal positif karena konsumen memiliki semakin banyak pilihan kendaraan sesuai kebutuhannya. Di sisi lain, Daihatsu memilih untuk tetap fokus pada segmen konsumen yang selama ini menjadi basis utama penjualannya. "Kalau kita lihat pencapaian Daihatsu, misalnya di tahun ini sampai dengan bulan Agustus, Daihatsu masih mencatatkan penjualan yang positif, meningkat 9 persen dibandingkan dengan tahun lalu," ujar Rokky, di Jakarta, Rabu (23/9/2026). Hingga Agustus 2026, penjualan ritel Daihatsu di Indonesia disebut mencapai sekitar 97.000 unit. Daihatsu GIIAS 2026 Fokus Pembeli Mobil Pertama Rokky mengatakan, salah satu strategi Daihatsu menghadapi persaingan adalah mempertahankan fokus pada core customer, khususnya konsumen di segmen harga di bawah Rp 300 juta. Segmen tersebut banyak diisi oleh konsumen yang membeli mobil untuk pertama kalinya atau first car buyer. "Ini terjadi karena kami memutus pada core customer, di mana core customer kami adalah di segmen di bawah Rp 300 juta, khususnya untuk first car buyer," kata Rokky. Menurut dia, kelompok first car buyer memiliki peran penting terhadap pertumbuhan pasar otomotif Indonesia karena berkaitan dengan proses motorisasi masyarakat. Karena itu, Daihatsu ingin tetap menyediakan kendaraan yang bisa dijangkau oleh masyarakat yang sedang mencari mobil pertamanya. Menariknya, konsumen Daihatsu tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar. Rokky menyebut, pengguna mobil Daihatsu juga tersebar hingga berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, berdasarkan data perusahaan, sekitar 62 persen konsumen Daihatsu berada di luar Pulau Jawa. "First car buyer Daihatsu ini tidak hanya ada di daerah perkotaan, namun ada di berbagai pelosok di Indonesia, tidak hanya ada di Jawa, tapi juga ada di luar Jawa," ucap Rokky. "Dan bahkan komposisinya untuk Daihatsu, sebagian besar justru ada di luar Jawa, yaitu 62 persen ada di luar Jawa," lanjut dia. Booth Daihatsu GIIAS 2025 Bukan hanya jual produk Di tengah persaingan dengan merek baru yang menawarkan teknologi, fitur, dan harga kompetitif, Daihatsu menilai pertarungan tidak hanya terjadi pada produk. Rokky mengatakan, konsumen juga membutuhkan kemudahan selama memiliki kendaraan. Mulai dari proses pembelian, perawatan, hingga ketika kendaraan hendak dijual kembali. Dengan demikian, strategi Daihatsu tidak hanya mengandalkan produk yang ditawarkan, tetapi juga layanan sepanjang periode kepemilikan kendaraan. "Customer itu tidak hanya membutuhkan produknya saja, bukan hanya produk yang efisien, produk yang desainnya bagus, produk yang fiturnya lengkap, tetapi juga berbagai kemudahan, kemudahan untuk membelinya, kemudahan untuk merawatnya, hingga kemudahan untuk menjual kembali," kata Rokky. Menurut Rokky, pendekatan tersebut menjadi salah satu cara Daihatsu mempertahankan konsumennya di tengah semakin banyaknya pilihan kendaraan di pasar. "Sehingga menjadi strategi kami adalah, kalau bisa dibilang, pakai komplit, memberikan produk yang sesuai dengan keinginan customer, sekaligus memberikan kemudahan di sepanjang periode kepemilikan kendaraan," kata Rokky.