Memodifikasi sektor transmisi otomatis atau CVT (Continuously Variable Transmission) menjadi tren yang sangat digemari pengguna skuter matik (skutik). Banyak yang rela mengotak-atik komponen ini demi mendapatkan akselerasi yang lebih responsif dan bertenaga. Namun, alih-alih mendapatkan performa idaman, salah kaprah dalam memodifikasi CVT justru sering kali menjadi bumerang yang membuat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sepeda motor melonjak drastis. Ilustrasi modifikasi CVT. Jebakan Modifikasi "Kartel" Mangkok Ganda Dustin, pemilik bengkel modifikasi Garage +62, menjelaskan bahwa penyakit utama skutik yang boros bensin sering kali berakar dari masalah selip pada sistem transmisi. Ironisnya, kondisi ini justru kerap lahir dari tangan pemilik motor yang salah melakukan modifikasi. Salah satu praktik yang paling sering ditemui adalah melakukan metode "kartel", yaitu sengaja mengasarkan permukaan dalam mangkok ganda. "Kebanyakan dimodifikasi dengan cara dikartel (dikasarin bagian permukaan mangkok), lalu kampas diganti yang lebih keras agar tidak mudah habis karena efek mangkok dikartel," ujar Dustin kepada Kompas.com, Rabu (15/7/2026). Secara logika awam, mengubah permukaan menjadi kasar dianggap bisa menambah daya cengkeram kampas. Namun, Dustin menegaskan bahwa secara teknis anggapan tersebut salah total. "Kenyataannya salah. Malah disaat CVT panas, kampas akan licin dan selip. Jadinya motor digas dalam-dalam tapi tarikan berat, jadinya boros BBM," kata Dustin. Ketika kampas dan mangkok ganda slip, tenaga dari mesin tidak tersalurkan dengan sempurna ke roda belakang. Pengendara pun terpaksa memuntir selongsong gas lebih dalam agar motor mau melaju, yang otomatis membuat bensin terbuang sia-sia. Alihkan Dana Modifikasi untuk Perawatan Wajib Berkaca dari risiko tersebut, Dustin menyarankan para pemilik skutik untuk menahan diri dari modifikasi sektor kirian yang berlebihan. Menurutnya, mempertahankan kondisi standar pabrikan jauh lebih menguntungkan untuk penggunaan harian. "Daripada modifikasi di bagian CVT, mending dananya dialihkan untuk maintenance yang wajib. Misalnya ganti oli di tiap 2.000 kilometer. Pakai oli yang berkualitas baik, hindari merek-merek baru yang enggak jelas track record dan durabilitasnya," kata Dustin. Ia menambahkan, konstruksi CVT bawaan pabrik sebenarnya sudah dirancang paling optimal untuk kebutuhan berkendara normal. Jika pemilik motor tetap bersikeras ingin melakukan ubahan ringan, batasan amannya sangat ringkas. "CVT akan lebih baik bila standar, kerjanya akan optimal dan pas. Kalaupun mau melakukan modifikasi ringan, cukup atur berat roller dan kekerasan per CVT saja. Sisanya standar sudah cukup. Lebih baik servis rutin CVT-nya biar kinerjanya tetap baik," kata Dustin.