Banyak pengemudi tanpa sadar melakukan kebiasaan yang membuat mobil jadi lebih boros bahan bakar. Padahal, kunci efisiensi sebenarnya terletak pada cara mengoperasikan kendaraan. Terutama dalam menjaga putaran mesin atau Revolutions Per Minute (RPM), baik pada mobil transmisi manual maupun matik. RPM merupakan indikator penting yang menunjukkan seberapa cepat mesin berputar dalam satu menit. Dengan memahami dan mengontrol RPM, pengemudi bisa mendapatkan performa optimal sekaligus konsumsi BBM yang lebih hemat. Petugas di salah satu SPBU Pertamina mengisi BBM kendaraan. Sebaliknya, jika gas diinjak sembarangan tanpa memperhatikan RPM, bahan bakar justru akan terbuang percuma. Service Manager Honda Mandalasena Malang, M Taufik R, mengatakan bahwa RPM menjadi acuan utama saat berkendara, terutama pada mobil manual. “RPM maksudnya ialah tingkat perputaran pada pulley atau ujung depan crankshaft (poros engkol). Ia sebagai patokan saat injak gas, jadi tidak bisa asal-asalan,” ucap Taufik kepada Kompas.com (12/4/2026). Ilustrasi injakan pedal gas yang pengaruhi besaran angka rpm pada takometer. Pada mobil manual, salah satu kebiasaan yang bikin boros adalah tidak menyesuaikan RPM dengan posisi gigi. Banyak pengemudi tetap menahan gigi rendah namun memaksa mesin berputar tinggi. Kondisi ini jelas membuat konsumsi BBM meningkat. “Apabila gigi di posisi rendah kemudian RPM tinggi, tentunya akan jadi boros, begitu juga sebaliknya,” katanya. Selain itu, pengemudi juga sering mengabaikan batas RPM yang aman. Padahal, pada panel instrumen terdapat indikator red line yang sebaiknya tidak dilewati. Ilustrasi speedometer mobil. “RPM pada kendaraan ada batasnya, di meter kombinasi rpm ada angka yang diberikan warna merah. Jadi disarankan tidak mencapai red line karena dapat berpotensi merusak mesin,” ujar dia. Sementara itu, pada mobil transmisi otomatis, pengaturan gigi memang sudah diatur oleh ECU atau komputer kendaraan. Namun, bukan berarti pengemudi bisa sepenuhnya santai tanpa memperhatikan cara berkendara. Dalam penggunaan harian di dalam kota, putaran mesin umumnya berada di kisaran 3.000 hingga 4.000 rpm. Ilustrasi tuas transmisi mobil manual Kebiasaan yang sering terjadi pada mobil matik adalah membiarkan tuas transmisi tetap di posisi D saat kendaraan berhenti, misalnya di lampu merah. Taufik menjelaskan bahwa hal ini bisa membuat konsumsi BBM menjadi lebih boros. “Kondisi tersebut sama saja memberi beban kepada mesin, sehingga saat posisi D sistem akan secara otomatis menambah putaran mesin atau ada sistem idle up-nya, dengan demikian jumlah BBM yang terbakar menjadi lebih banyak,” ucap Taufik. Saat tuas berada di posisi D, mesin tetap bekerja seolah mobil siap melaju. Akibatnya, bahan bakar terus terbakar meski kendaraan tidak bergerak. Ilustrasi tuas transmisi matik Jika kondisi ini berlangsung lama, pemborosan pun tak terhindarkan. Bahkan, jika sistem idle up terganggu, putaran mesin bisa menjadi tidak stabil. Pada akhirnya, kebiasaan kecil dalam mengemudi sangat berpengaruh terhadap efisiensi bahan bakar. Baik pada mobil manual maupun matik, memahami cara kerja mesin dan menjaga RPM tetap ideal menjadi kunci utama agar konsumsi BBM tetap hemat dan kendaraan tetap awet. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang