Bursa pebalap MotoGP 2027 mulai memanas, bahkan sebelum musim berjalan sepenuhnya. Regulasi teknis baru yang akan berlaku pada 2027 membuat para pebalap tak ingin menunggu terlalu lama untuk mengamankan masa depan. Dan satu nama kini disebut-sebut bisa mengubah peta persaingan adalah Francesco Bagnaia. Rumor ini bukan sekadar gosip paddock biasa, melainkan sinyal awal efek domino besar di grid MotoGP. Dilansir dari Motosan (21/2/2026), Pecco dikabarkan siap meninggalkan Ducati dan merapat ke Aprilia mulai 2027. Livery Tim Trackhouse Aprilia MotoGP untuk musim 2026 Secara resmi, memang baru satu kepastian yang diumumkan ke publik, yakni perpanjangan kontrak Marco Bezzecchi bersama Aprilia Racing usai tes Sepang. Namun di balik layar, banyak keputusan diyakini sudah diambil. Pusat pusarannya ada di tim pabrikan Ducati Lenovo Team, garasi paling diburu di grid saat ini. Masalahnya, kursi Ducati terbatas. Kontrak Marc Márquez disebut-sebut hampir pasti diperpanjang, sementara nama Pedro Acosta terus dikaitkan dengan proyek Borgo Panigale. Pebalap Ducati Lenovo Team, Francesco Bagnaia, melambai sebelum dimulainya Sprint Race MotoGP Argentina 2025 di Sirkuit Termas de Rio Hondo di Santiago del Estero, Argentina pada 15 Maret 2025. Terkini, Bagnaia menjadi pemenang balapan MotoGP Amerika 2025 di Sirkuit COTA, Austin, 30 Maret 2025. (Photo by Luis ROBAYO / AFP) Dalam situasi seperti ini, Bagnaia yang merupakan juara dunia 2022 dan 2023, justru berada dalam posisi tak nyaman. Pecco adalah produk murni Ducati sejak naik kelas ke MotoGP pada 2019. Ia dibesarkan, dimatangkan, dan akhirnya menjadi juara dunia bersama pabrikan Italia tersebut. Namun laporan Motosprint dari Italia menyebut hubungan harmonis itu mulai retak pada 2025. Musim yang penuh pasang surut, dengan hanya dua momen krusial di COTA dan Motegi, disebut menjadi titik balik menurunnya kepercayaan. Ducati Desmosedici GP25 milik Francesco Bagnaia menggunakan nomor start 63 Jika benar hengkang, Aprilia menjadi destinasi paling masuk akal. Opsi lain sempat mengarah ke Yamaha, namun dinamika internal, termasuk potensi masuknya Toprak Razgatlioglu, membuat persaingan kursi di sana juga tak sederhana. Aprilia justru menawarkan narasi yang lebih kuat. Bayangkan duet dua pebalap Italia, Bagnaia dan Bezzecchi, memimpin proyek RS-GP di era regulasi baru. Sebuah “tim impian” yang bukan hanya romantis secara nasionalisme, tetapi juga strategis secara teknis. Terlebih setelah kepergian Jorge Martín, Aprilia memang membutuhkan figur sentral baru untuk memimpin pengembangan motor. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang