Sebagai motor entry level dari Triumph yang dibanderol di bawah Rp 200 juta, rasa berkendara Triumph Speed 400 jelas mengundang rasa penasaran. Apakah motor hasil aliansi strategis Triumph dan Bajaj ini tetap menghadirkan karakter riding yang halus dan bertenaga khas motor Eropa? Posisi Duduk Ramah tapi Agak Sporty Saat pertama kali saya duduk di joknya, posisi berkendara motor ini tergolong ramah untuk postur pengendara Indonesia. Pengendara dengan tinggi badan 165 cm hanya perlu jinjit sedikit, sementara bagi yang bertinggi 178 cm dapat menapak sempurna ke tanah. Ditambah bobot basahnya yang hanya 170 kg, motor ini terasa cukup enteng dan mudah dikendalikan saat manuver kecepatan rendah. Namun, ada catatan pada aspek ergonomisnya. Meski mengusung konsep naked roadster, posisi duduknya terasa cukup sporty. Jika posisi badan dibuat tegak, tangan akan cepat pegal karena menahan beban, sedangkan jika badan agak dicondongkan ke depan, bagian punggung yang akan terasa lelah dalam perjalanan jauh. Performa Mesin Halus dan Nurut di Kemacetan Sektor dapur pacu dibekali mesin 398 cc silinder tunggal bertenaga 40 TK dan torsi 37,5 Nm. Berkat penggunaan sistem Ride-by-Wire, bukaan gas terasa instan sekaligus halus. Triumph Speed 400 Saat saya ajak jalan santai di kecepatan 60 km/jam sampai 80 km/jam, karakter mesinnya terasa sangat halus dan minim getaran. Pengendara juga tidak perlu terlalu sering berganti gigi dan bisa tetap nyaman berada di posisi gigi tiga atau empat. Ketika melintasi kemacetan khas perkotaan, saya rasa mengendarai Speed 400 tetap mengasyikkan. Tarikan awal saat melepas kopling dan sedikit bukaan gas berjalan mulus tanpa gejala menyentak (jerky). Suhu mesinnya saat panas bisa diarahkan dengan sangat baik. Radiator dan kipas berukuran besar membuat hawa panas mesin tidak mengganggu area kaki. Triumph Speed 400 Kenyamanan Suspensi dan Kompromi Pengereman Di sektor sasis dan kaki-kaki, peredaman suspensi upside down 43 mm di depan mampu bekerja maksimal meredam permukaan jalan yang bergelombang maupun melibas lubang dengan nyaman. Karakter bantingan yang pas ini dipadukan dengan jok berbahan kulit yang mampu menopang pinggul dengan baik dan tidak licin. Radius putar kemudinya yang relatif kecil juga memudahkan manuver selap-selip di kepadatan lalu lintas. Untuk pengereman, kombinasi rem cakram dengan ABS dual-channel sudah sangat mumpuni untuk menghentikan laju kendaraan. Catatannya, jarak tuas rem depan bawaan pabrik terasa lumayan jauh dan belum dilengkapi fitur penyetelan jarak (adjustable), yang akan lebih baik jika bisa disesuaikan dengan jangkauan jari pengendara. Triumph Speed 400 Komparasi Singkat dengan Rival Jika dibandingkan dengan para pesaing di kelasnya, Triumph Speed 400 menawarkan paket yang cukup seimbang. Dibandingkan dengan Royal Enfield Guerrilla 450 yang punya torsi bawah sedikit lebih padat, Speed 400 unggul karena bobotnya lebih ringan, radius putar lebih lincah, dan sudah menggunakan suspensi depan upside down. Sementara jika disandingkan dengan BMW G310R, secara performa mesin Triumph 400 cc lebih bertenaga (40 TK) dibandingkan BMW 313 cc yang bertenaga 34 TK.