Penjualan BYD di luar negeri meroket imbas dari melonjaknya harga BBM. Bahkan kenaikannya mencapai 71 persen.Harga BBM masih tinggi pasca perang Iran. Hal itu berimbas pada melonjaknya penjualan mobil-mobil BYD khususnya di luar China. Mengutip Business Times, dalam unggahan di Weibo, penjualan BYD itu melonjak 71 persen pada bulan lalu menjadi 134.542 unit. Namun, hal itu belum cukup meningkatkan total penjualan secara keseluruhan yang tercatat turun 16 persen menjadi 321.123 unit. Pasar global memang menjadi salah satu faktor penting bagi BYD. Terlebih di tengah penurunan penjualan di pasar domestik akibat penghapusan subsidi pemerintah dan persaingan yang makin ketat dari para rival seperti Geely dan juga Xiaomi. BYD diketahui menargetkan penjualan sebanyak 1,3 juta unit di luar China pada tahun ini, lebih tinggi dari pencapaian tahun 2025.Penurunan penjualan berkepanjangan tengah melanda pasar otomotif China. Ditambah lagi ada perang harga yang amat sengit di Negeri Tirai Bambu bikin pendapatan BYD terkikis. Utang jangka pendeknya pun ikut melonjak.Deretan model baru dan pengisian daya baterai secara cepat menjadi strategi untuk mendorong penjualan di sisa tahun ini. Di pameran otomotif Beijing baru-baru ini, BYD memamerkan rangkaian strategi multibrandnya sekaligus menampilkan mobil yang dilengkapi dengan baterai blade terbaru.Menurut laporan, BYD telah menerima lebih dari 30.000 unit pemesanan dalam 24 jam pertama setelah peluncuran SUV terbaru Great Tang. Mobil berkapasitas tujuh penumpang ini menjanjikan jarak tempuh hingga 1.000 km dalam satu kali pengisian baterai. Konon, mobil bakal dijual mulai 250 ribu yuan atau setara dengan Rp 637 jutaan.Sejauh ini, para produsen China memang menjadikan diskon sebagai salah satu daya tarik bagi konsumen di pasar domestik, mengabaikan imbauan pemerintah untuk mengakhiri perang harga sekaligus memberikan tekanan pada margin keuntungan. BYD bahkan terpantau masih menurunkan harga mobilnya rata-rata 10 persen, tertinggi dalam dua tahun terakhir.