Dani Pedrosa mengungkapkan pengalamannya saat satu tim dengan Marc Marquez di Honda, termasuk pelajaran berharga yang ia petik dari juara dunia sembilan kali tersebut. Meski tak pernah meraih gelar juara dunia MotoGP, Pedrosa tetap dikenal sebagai salah satu legenda balap motor. Mantan pebalap yang kini menjadi test rider KTM itu juga sempat masuk dalam kelompok “fantastic four” MotoGP bersama Casey Stoner, Valentino Rossi, dan Jorge Lorenzo. Pada 2013, Pedrosa kedatangan rekan setim baru di Honda, yakni Marc Márquez. Pebalap asal Cervera tersebut langsung tampil impresif di kelas utama dengan meraih gelar juara dunia pada musim debutnya. Sementara itu, Pedrosa harus puas mengakhiri musim di posisi ketiga, di belakang Lorenzo. Kendati demikian, pebalap asal Spanyol tersebut mengaku mendapatkan banyak pelajaran selama berbagi garasi dengan Marquez. Dalam podcast Fast & Curious, Pedrosa menyebut salah satu kelebihan Marquez adalah kemampuannya untuk mendekati bahkan melampaui batas. Sepanjang kariernya, Marquez dikenal kerap terjatuh. Namun, hal itu tidak menghalanginya untuk kembali bangkit dan tetap tampil cepat di lintasan. Hal tersebut diakui Pedrosa sebagai sesuatu yang sulit ia lakukan, mengingat dirinya cukup rentan mengalami cedera. Pebalap Repsol Honda asal Spanyol, Marc Marquez (kiri) dan Dani Pedrosa, bercanda saat mengikuti acara di Red Bull Ring, Austria, Selasa (14/6/2016). “Pendekatan saya dalam balapan selalu bertahap, mencoba meminimalkan risiko. Karena setiap kali saya jatuh, saya pasti cedera. Saya tidak bisa jatuh berkali-kali dalam satu akhir pekan dan tetap finis di podium. Itu tidak mungkin bagi saya,” ujar Pedrosa, dikutip dari Motosan.es, Rabu (5/5/2026). Menurut dia, hal tersebut justru bisa dilakukan oleh Marquez. “Marc bisa menghancurkan lima motor, tetapi saat balapan hari Minggu dia bisa menang atau finis kedua atau ketiga. Dari situ saya belajar cara berbeda dalam menghadapi akhir pekan balapan,” kata dia. Pedrosa juga menilai Marquez sangat memahami batas kemampuannya. Ia menyebut Marquez selalu tampil maksimal, bahkan berani melampaui batas, namun tetap tahu kapan harus mengurangi risiko. “Ia selalu melaju 100 persen, bahkan sedikit lebih. Tapi ketika melewati batas, dia tahu kapan harus sedikit mengendur agar tetap berada di titik yang tepat,” ucap Pedrosa. Di sisi lain, Pedrosa mengaku belum pernah berdiskusi secara mendalam dengan Marquez mengenai hal apa yang dipelajari sang juara dunia darinya. “Saya tidak tahu apa yang dia pelajari dari saya. Kami belum pernah membahasnya secara mendalam, karena dengan rival sekuat itu, biasanya tidak banyak rahasia yang dibagikan,” ujar Pedrosa. Ia menambahkan, pembicaraan lebih terbuka justru bisa dilakukan dengan mantan rival lain seperti Casey Stoner, terutama setelah tidak lagi berada dalam satu persaingan langsung. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang