Motor listrik kerap dilirik sebagai alternatif kendaraan harian karena menawarkan biaya operasional yang relatif rendah. Tidak adanya kebutuhan bahan bakar bensin dan sejumlah perawatan mesin konvensional menjadi faktor yang membuat kendaraan listrik menarik bagi sebagian konsumen. Namun, menghitung biaya kepemilikan motor listrik tidak cukup hanya dengan membandingkan biaya pengisian daya dan pembelian bensin. Ada komponen lain yang perlu diperhitungkan, seperti pajak kendaraan, perawatan, depresiasi, hingga penggantian baterai apabila sudah mengalami penurunan performa. Skema kepemilikan juga berpengaruh terhadap pengeluaran. Sebagian motor listrik menggunakan baterai yang dibeli bersama unit kendaraan, sementara model lainnya menawarkan sistem sewa baterai. Test ride motor listrik Alva N3 Biaya Sesuaikan Pemakaian Rahman, pemilik motor listrik Alva N3 Next Gen yang menggunakan sistem sewa baterai sejak Mei 2026, mengatakan bahwa skema tersebut sesuai dengan kebutuhannya karena biaya sewa disesuaikan dengan jarak tempuh bulanan. “Pengeluaran jauh lebih hemat, baik dari segi waktu maupun biaya. Untuk pajak, benar, saya hanya membayar biaya administrasi sekitar Rp 30.000–Rp 35.000 per tahun," katanya kepada Kompas.com, Kamis (7/10/2026). Dengan demikian, biaya sewa baterai yang dibayarkan bisa berbeda setiap bulan, bergantung pada jarak tempuh. Bagi pengguna yang aktivitasnya tidak selalu sama, skema tersebut dapat membantu menyesuaikan pengeluaran dengan pemakaian kendaraan. "Selain itu, ada biaya sewa baterai yang biasanya Rp 125.000 atau Rp 200.000, tergantung pemakaian. Biaya Rp 125.000 berlaku untuk jarak tempuh 0–700 km, sedangkan Rp 200.000 untuk 701–1.800 km," ujarnya. "Terkadang, pemakaian saya setiap bulan tidak konsisten. Karena itu, sistem sewa Alva ini sangat pas untuk kebutuhan saya.” ujar Rahman. Bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat Jangan Modifikasi Berat Abdullah, pemilik Dolland Motor Electric, bengkel spesialis motor listrik, mengatakan biaya operasional motor listrik bisa lebih hemat dibandingkan motor bensin. Namun, penghematan tersebut juga bergantung pada pemilihan kendaraan dan cara penggunaannya. Ia mengingatkan konsumen agar tidak melakukan modifikasi berat jika tujuan awalnya adalah menekan pengeluaran. Sebab, modifikasi justru berpotensi menambah biaya pembelian komponen dan pengerjaan. “Ya, 1.000 persen. Namun, harus tepat dalam memilih motor listrik, mulai dari unit hingga layanan purnajual APM, serta tidak terjun ke dunia modifikasi berat,” ungkapnya. Bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat Karena itu, sebelum membeli motor listrik, konsumen perlu mempertimbangkan kebutuhan sehari-hari agar tidak mengeluarkan biaya yang sebenarnya tidak diperlukan. Misalnya, memilih motor dengan jarak tempuh yang sesuai untuk aktivitas harian, didukung jaringan bengkel yang memadai dan ketersediaan suku cadang. Biaya Perawatan Dihitung Hendro Sutono, pegiat kendaraan listrik sekaligus Admin KOSMIK Indonesia, mengatakan bahwa perbandingan biaya motor listrik perlu memperhitungkan seluruh pengeluaran selama masa kepemilikan. “Jika dihitung murni secara finansial dalam satu siklus hidup baterai utama, dengan memperhitungkan total biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership/TCO), termasuk depresiasi dan estimasi biaya penggantian baterai, motor listrik mencatatkan biaya operasional yang sedikit lebih hemat dibandingkan motor bensin, katanya. Bengkel motor listrik DyVolt Namun, kata Hendro, keunggulan utama motor listrik juga terletak pada aspek kepraktisan dan efisiensi waktu. "Pertama, kemudahan pengisian daya. Pengguna dapat mengisi daya secara mandiri di rumah tanpa perlu mengantre di SPBU," ujarnya. "Kedua, tidak memerlukan perawatan rutin seperti penggantian oli mesin, busi, maupun penyetelan komponen pembakaran secara berkala," katanya. Namun, motor listrik tetap membutuhkan pemeriksaan berkala. Komponen seperti ban, sistem pengereman, suspensi, dan bagian kelistrikan tetap perlu diperhatikan. Kondisi baterai dan sistem penggerak juga perlu diperiksa sesuai panduan pabrikan. "Ketiga, waktu henti penggunaan kendaraan (downtime) yang minim. Kebutuhan perawatan mekanis yang lebih sedikit dapat membantu menjaga efektivitas dan produktivitas penggunaan kendaraan sehari-hari,” ujarnya.