Berkendara mobil di musim hujan menuntut kewaspadaan dan pengendalian diri yang lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Kondisi jalan yang basah, banyaknya jalan berlubang menjadi hambatan nyata. Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan saat jalan basah, daya cengkeram ban terhadap aspal menurun sehingga jarak pengereman menjadi lebih panjang. “Tak hanya jarak pengereman lebih panjang, mobil berpeluang mengalami aquaplaning yakni membuat mobil seolah-olah melayang di atas air, oleh karena itu pengemudi perlu mengurangi kecepatan dan menjaga jarak aman,” ucap Sony kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Menjaga jarak aman lebih jauh dan mengurangi kecepatan menjadi cara paling aman saat berkendara di musim hujan. Hal ini bisa jadi langkah antisipatif terhadap risiko kecelakaan. “Jika setir terasa ringan atau mobil seperti mengapung, pengemudi sebaiknya melepas pedal gas secara perlahan, menghindari pengereman mendadak, dan menjaga arah setir tetap lurus sampai ban kembali mencengkeram jalan,” ucap Sony. Saat melakukan pengereman di jalan basah, rem harus diinjak lebih awal dan secara halus, serta dihindari mengerem keras sambil membelok tajam karena dapat menyebabkan mobil selip dan hilang kendali. Kondisi kabut tebal di Jalur Puncak, Kabupaten Bogor. Tangkapan layar video akun Instagram @infopuncak.bgr Pengendara juga perlu menggunakan lampu utama saat hujan lebat untuk meningkatkan visibilitas, baik agar pengemudi dapat melihat lebih jelas maupun agar kendaraan mudah terlihat oleh pengguna jalan lain. Sebaliknya, lampu hazard tidak perlu digunakan saat kendaraan masih berjalan di bawah hujan agar tak membuat bingung pengguna jalan lain. Musim hujan juga identik dengan genangan air. Bila pengendara berjumpa dengan genangan yang tidak diketahui kedalamannya sebaiknya dihindari karena berisiko merusak mesin dan komponen kendaraan. Pengendara sepeda motor melintasi banjir di Jalan Raya Pelni, Taman Duta, Depok, Jawa Barat, Rabu (28/1/2026). Banjir di kawasan tersebut terus berulang setelah hujan, drainase yang buruk menyebabkan meluapnya air Sungai Kali Cijantung sehingga akses jalan tergenang air setinggi 30-60 cm. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/bar “Jika terpaksa harus melewatinya, pastikan ketinggian air tidak lebih dari setengah roda, gunakan gigi rendah, jaga putaran mesin tetap stabil, dan jangan berhenti di tengah genangan agar air tidak masuk ke mesin,” ucap Sony. Kondisi kendaraan juga harus dipastikan prima, terutama ban dengan alur yang masih tebal, tekanan angin yang sesuai, serta wiper yang berfungsi baik karena komponen ini sangat menentukan keselamatan saat hujan. Selain itu, pengemudi perlu memperhatikan kaca mobil yang mudah berembun saat hujan. Pengaturan AC yang tepat dengan arah hembusan ke kaca depan akan membantu menjaga pandangan tetap jelas. Setelah berkendara di tengah hujan atau melewati genangan, ada baiknya memeriksa kembali kondisi mobil, termasuk rem dan kolong kendaraan, untuk memastikan tidak ada gangguan atau kerusakan. Pada akhirnya, berkendara di musim hujan menuntut sikap lebih sabar, halus, dan antisipatif demi keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang