Marc Marquez dan Valentino Rossi Dunia balap motor internasional dikejutkan oleh terbongkarnya sebuah koleksi motor MotoGP bernilai fantastis yang disita oleh FBI. Bukan karena jumlahnya semata, melainkan latar belakang pemiliknya yang jauh dari bayangan seorang kolektor otomotif konvensional. Koleksi tersebut dikaitkan dengan Ryan James Wedding, warga negara Kanada berusia 44 tahun yang masuk dalam daftar buronan paling dicari FBI. Sosok ini dikenal memiliki masa lalu sebagai atlet snowboard Olimpiade, sebelum kemudian terjerumus ke dunia kejahatan terorganisasi lintas negara.Kasus ini menarik perhatian karena koleksi motor yang disimpan disebut mencapai 62 unit, dengan nilai ditaksir puluhan juta dolar Amerika Serikat. Disadur VIVA Otomotif dari Rideapart, Kamis 1 Januari 2026t, motor-motor tersebut ditemukan tersimpan di Meksiko, jauh dari sirkuit balap dan museum otomotif yang lazim menjadi rumah kendaraan langka. Dari sisi historis, koleksi ini tergolong luar biasa karena mencakup motor-motor balap dengan nilai prestasi tinggi. Sejumlah Ducati MotoGP yang pernah ditunggangi legenda seperti Valentino Rossi, Jorge Lorenzo, Andrea Dovizioso, hingga Loris Capirossi disebut termasuk di dalamnya.Tak hanya kelas MotoGP, koleksi tersebut juga merambah kelas balap lain yang sarat sejarah. Di antaranya adalah motor Moto2 juara dunia milik Marc Marquez tahun 2012 serta Aprilia 125 cc yang membawa Rossi menjadi juara dunia pada 1997. Keunikan koleksi ini semakin kuat karena mencakup berbagai motor balap ikonik dari lintas era dan pabrikan. Mulai dari motor Superbike Kawasaki ZXR750 yang identik dengan Scott Russell hingga beberapa unit yang masih belum teridentifikasi secara resmi. Namun di balik nilai sejarah dan teknologinya, kondisi penyimpanan motor-motor tersebut justru memicu keprihatinan. Kendaraan balap bernilai tinggi itu dilaporkan disimpan tanpa standar perawatan layaknya koleksi museum atau garasi profesional. Bagi penggemar MotoGP, melihat deretan motor juara dunia dalam satu lokasi tentu menjadi mimpi tersendiri. Namun dalam konteks kasus ini, kekaguman tersebut berubah menjadi ironi ketika koleksi legendaris justru terhubung dengan aktivitas kriminal.