Nama Valentino Rossi tidak hanya identik dengan prestasi di lintasan, tetapi juga kisah perjalanan hidup yang membentuk karakter kompetitifnya sejak muda. Dalam sebuah podcast, Rossi mengenang masa remajanya saat masih berusia 15-16 tahun dan bersekolah di Pesaro, Italia. Saat itu, ia tinggal bersama ibunya di Montecchio dan harus menempuh perjalanan yang tidak mudah setiap hari. “Seharusnya saya naik trem, tapi jalurnya lebih jauh dan harus berangkat lebih awal. Jadi saya sering terlambat dan akhirnya naik motor,” ujar Rossi, dikutip dari Motosan.es, Rabu (15/4/2026). Kondisi semakin sulit saat musim dingin. Cuaca dingin dan hujan membuat perjalanan menjadi tidak nyaman. Sang ayah, Graziano Rossi, kemudian memberikan solusi dengan menyarankan penggunaan Piaggio Ape, kendaraan roda tiga, mirip Bajaj atau Bemo di Indonesia. “Kenapa tidak beli Ape? Jadi kamu bisa berkendara tertutup,” kata Graziano. Saat itu, kendaraan tersebut identik dengan kalangan orang tua. Namun, keputusan Rossi justru memicu tren baru di kalangan anak muda. “Di daerah kami, Ape itu untuk orang tua. Tapi setelah saya pakai, teman-teman saya ikut membeli,” kata Rossi. Valentino Rossi menjalani sesi latihan bebas MotoGP Australia 2019 di Sirkuit Phillip Island, 27 Oktober 2019. Ia pun mengingat bagaimana perjalanan sederhana justru menjadi bagian paling menyenangkan. “Yang penting bukan tujuan, tapi perjalanannya. Bahkan ke Rimini untuk main bowling saja terasa seperti petualangan,” ujarnya. Tak hanya itu, Rossi juga menceritakan kebiasaan unik bersama teman-temannya, yakni saling bertabrakan ringan menggunakan Ape atau yang disebut sportellate. “Kalau ada yang parkir duluan, yang lain akan parkir dengan menabraknya. Kami bersenang-senang seperti itu,” kata dia. Namun, keseruan tersebut juga sempat berujung masalah. Rossi mengaku pernah kehilangan dua kendaraan dalam satu hari setelah berurusan dengan aparat. “Saya pernah kehilangan dua kendaraan dalam satu hari,” ujarnya. Awalnya, skuter miliknya disita karena tidak menggunakan helm. Malam harinya, saat kembali berkendara bersama teman-temannya, ia kembali dihentikan polisi. “Kami dikejar dan dihentikan di pom bensin. Akhirnya dua Ape kami disita,” kata Rossi. Akibat kejadian itu, ia harus menerima konsekuensi dari sang ayah. “Ayah saya sangat marah, karena saya kehilangan skuter dan Ape di hari yang sama,” ujarnya. Kini, kehidupan Rossi jauh lebih teratur seiring kariernya di dunia balap ketahanan. Ia mengandalkan teknologi seperti simulator untuk mempersiapkan diri sebelum turun ke lintasan. Valentino Rossi mengikuti ajang balap ketahanan 24 jam “Saya bangun pagi, berlatih, lalu menggunakan simulator karena besok ada tes di Monza,” kata Rossi. Ia menggunakan simulator balap iRacing untuk berlatih, bahkan hingga puluhan putaran. “Sebelum tes, saya biasanya melakukan sekitar 50 putaran untuk mengingat trek,” ujarnya. Saat ini, Rossi juga aktif di ajang balap ketahanan, yang memiliki karakter berbeda dibanding MotoGP. “Mobil digunakan oleh tiga pembalap secara bergantian,” kata dia. Menurut Rossi, tantangan terbesar dari balap ketahanan adalah menjaga kondisi fisik dan mental. “Anda mengemudi satu atau dua jam, lalu turun dalam kondisi lelah, tapi balapan masih sangat panjang,” ujarnya. Meski begitu, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Rossi, dari masa muda penuh kebebasan hingga kini menjadi pembalap profesional di level tertinggi. Kisah ini menunjukkan, semangat kompetitif Rossi sudah terbentuk sejak dini dan terus terbawa hingga saat ini. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang