— Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) menegaskan bahwa pengujian terhadap bahan bakar Bobibos masih berada pada tahap riset internal. Karena itu, klaim angka Research Octane Number (RON) yang disebut mencapai 98,1 belum dapat dikategorikan sebagai hasil uji resmi yang mengacu pada standar baku. Hal tersebut disampaikan oleh Cahyo Setyo Wibowo, Koordinator Pengujian Aplikasi Produk Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas (Lemigas). Ia menjelaskan bahwa pihaknya tidak memberikan tanggapan spesifik mengenai riset Bobibos, karena fokus diskusi lebih kepada pengenalan bahan baku. “Kami nggak punya tanggapan apa-apa. Diskusi kami lebih ke bertanya bahan bakunya dari apa. Pihak Bobibos menyampaikan bahwa bahan bakar itu 100 persen dari nabati, sehingga kami sampaikan bahwa ini ranahnya sudah di DJEBTKE (Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi),” ujar Cahyo kepada Kompas.com, Kamis (27/11/2025). Terkait klaim bahwa Bobibos telah diuji di Lemigas dan memperoleh nilai RON 98, Cahyo menegaskan bahwa BBM tersebut belum memiliki spesifikasi yang bisa dijadikan acuan, baik sebagai bensin maupun bioetanol. Ilustrasi gedung Lemigas “Jenis BBM mereka belum ada spesifikasi yang diacu. Tim Bobibos juga masih uji coba internal. Sebentar lagi uji coba di tempat KDM. Mereka belum produksi, jadi sama-sama menunggu. Mereka welcome,” kata Cahyo. Ia juga menambahkan bahwa secara teori, bahan bakar berbasis etanol memang dapat memiliki nilai RON sangat tinggi. Namun tanpa spesifikasi yang jelas, angka tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai standar yang sah. “Namanya juga masih riset ya. Kalau yang tinggi etanol, malah di atas 100 RON-nya. Setelah diskusi, ternyata spesifikasinya enggak bisa mengacu ke bensin dan enggak bisa mengacu ke bioetanol,” kata Cahyo. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang