Aturan tekanan ban di MotoGP masih menjadi polemik. Pasalnya, regulasi ini kerap memicu perubahan hasil balapan karena penalti yang dijatuhkan setelah finis. Sesuai ketentuan, tekanan minimum ban depan tidak boleh berada di bawah batas yang ditetapkan selama minimal 60 persen jarak lomba. Jika dilanggar, pebalap akan dikenai penalti waktu. Kasus ini pernah dialami pebalap KTM Tech3, Maverick Viñales, yang kehilangan podium kedua di Qatar musim lalu. Ia dijatuhi penalti 16 detik sehingga posisinya turun ke peringkat ke-14. Marc Marquez saat berlaga pada MotoGP Thailand 2026 Regulasi ini dibuat untuk meningkatkan keselamatan. Namun justru menimbulkan kebingungan dan kekecewaan, baik bagi pebalap maupun penggemar, karena hasil balapan bisa berubah setelah garis finis. Dalam beberapa kasus, pebalap harus mengatur strategi khusus demi menghindari pelanggaran. Juara dunia seperti Marc Márquez pernah sengaja mengurangi kecepatan meski sedang memimpin lomba. Hal serupa juga dialami Pedro Acosta. Dia finis ketiga pada sprint race di Austin, tetapi kemudian terkena penalti delapan detik akibat tekanan ban yang tidak sesuai. Akibatnya, pebalap andalan KTM itu turun ke posisi kedelapan, sementara podium diwarisi rekan setimnya, Enea Bastianini. Direktur olahraga motor KTM Pit Beirer Direktur Motorsport KTM, Pit Beirer, menjelaskan bahwa keputusan terkait tekanan ban merupakan hasil diskusi antara pebalap dan kepala kru. “Pada akhirnya, keputusan soal tekanan ban ditentukan antara pebalap dan crew chief," kata Beirer dikutip dari Speedweek, Sabtu (11/4/2026). "Kami punya tim besar dan banyak data, tetapi keputusan akhir ada di crew chief yang melihat kondisi pebalap dan bertanya: ‘Apakah kita ambil batas maksimal atau bermain aman?’” ujar Beirer. Beirer menilai aturan tersebut tidak relevan dan perlu ditinjau ulang. “Selain itu, aturan ini tidak masuk akal. Saya pernah mengusulkan agar pengecekan tekanan ban dilakukan di grid start saja. Mau mulai dengan 1,8, 1,9, atau 2,0 bar, tidak masalah, yang penting sama untuk semua,” ujarnya. Alex Rins saat berlaga pada MotoGP Amerika 2026 Menurut Beirer, tekanan ban sangat dipengaruhi kondisi balapan, seperti posisi pebalap di lintasan. “Kalau bermain aman dengan tekanan tinggi lalu berada di slipstream, tekanannya bisa melonjak dan motor jadi sulit dikendalikan. Sebaliknya, saat melaju sendirian di depan, tekanan justru bisa turun,” kata Beirer. Ia pun menegaskan bahwa aturan ini sebaiknya segera diubah atau bahkan dihapus. “Aturan ini harus diubah atau dihapus. Sangat tidak masuk akal jika hal seperti ini menentukan hasil balapan. Selisih 0,03 bar tidak memberi keuntungan atau kerugian berarti,” ujar dia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang