Direktur Motorsport KTM, Pit Beirer, melontarkan kritik keras terhadap regulasi tekanan ban minimal yang berlaku di MotoGP saat ini. Menurutnya, aturan tersebut sudah masuk kategori "absurd" dan harus segera direvisi atau bahkan dihapus total. Kritik ini mencuat setelah pebalap KTM, Pedro Acosta, kehilangan podium Sprint Race di COTA akibat terkena penalti waktu pasca-balap. Acosta dianggap melanggar batas minimum persentase lap dengan tekanan ban yang sesuai ketentuan. Untuk diketahui, regulasi saat ini mewajibkan pebalap berada di atas batas tekanan ban minimal selama 30 persen durasi Sprint dan 60 persen untuk balapan utama (Grand Prix). Jika melanggar, penalti waktu 8 detik atau 16 detik siap menanti setelah bendera finis dikibarkan. Pebalap Spanyol dari tim Red Bull KTM Factory Racing Pedro Acosta beraksi dalam sesi latihan bebas 2 MotoGP Thailand 2026 di Sirkuit Internasional Buriram di Buriram pada 28 Februari 2026. (Foto oleh Lillian SUWANRUMPHA / AFP) "Aturan ini benar-benar absurd. Saya sangat menyarankan agar tekanan ban diperiksa di grid start saja, sehingga perlakuannya sama untuk semua orang," ujar Beirer dikutip dari Speedweek, Selasa (14/4/2026). Beirer menjelaskan bahwa fluktuasi tekanan ban sangat bergantung pada kondisi balapan yang sulit diprediksi secara teknis. Perubahan tekanan bukan semata-mata upaya tim untuk berbuat curang, melainkan variabel murni di lintasan. "Jika Anda menyiapkan cadangan tekanan yang cukup agar tetap di atas limit, tapi ternyata Anda berada di belakang pebalap lain (slipstream), tekanan ban akan melonjak drastis dan motor jadi sulit dikendalikan," ucap Beirer. "Sebaliknya, kalau Anda membalap sendirian di depan, tekanan ban tiba-tiba turun. Kita tidak selalu berada di posisi depan. Kadang kami bertarung di tengah kerumunan, lalu tiba-tiba ada momen melaju sendirian yang membuat tekanan ban turun," katanya. Kekecewaan Beirer semakin memuncak karena menurutnya selisih tekanan ban yang sangat tipis tidak memberikan keuntungan performa yang signifikan, namun justru merusak hasil balapan. "Anda tidak mendapatkan keuntungan atau kerugian apa pun hanya dari selisih 0,03 bar. Ini omong kosong, karena angka itu tidak menunjukkan apakah seseorang bekerja dengan baik atau buruk. Fakta bahwa hal seperti ini menentukan hasil balap sangatlah mengerikan," tegasnya. Beirer mengaku sudah menyampaikan keresahannya langsung kepada Presiden FIM saat di grid start. Ia berharap ada langkah nyata untuk mengubah regulasi ini sebelum musim-musim mendatang. "Mari kita semua mulai dengan tekanan ban yang sama, lalu balapan dengan adil," pungkas Beirer. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang