Kebiasaan setengah kopling sering dilakukan pengemudi mobil manual, terutama saat menghadapi kemacetan. Cara ini kerap dianggap benar tapi sebenarnya merusak komponen. Kondisi lalu lintas yang berhenti dan berjalan membuat pengemudi mencari cara agar mobil tetap bergerak perlahan tanpa banyak hentakan. Imun, pemilik bengkel Spesialis Ford Trucuk Klaten mengatakan setengah kopling dianggap sebagai solusi praktis karena memungkinkan mobil merayap tanpa harus sering menginjak pedal gas dan rem. “Dengan teknik ini, pengemudi hanya mengatur posisi kopling untuk mengontrol kecepatan, lebih praktis tapi awas kampas koplingnya cepat habis,” ucap Imun kepada KOMPAS.com, Senin (13/4/2026). Bagi pengemudi pemula, teknik ini juga terasa lebih aman. Mereka cenderung khawatir mobil mati mendadak jika kopling dilepas terlalu cepat, sehingga memilih menahan kopling di posisi setengah. Selain itu, kebiasaan ini sering terbentuk sejak proses belajar mengemudi. Setengah kopling digunakan saat start awal, lalu terbawa menjadi kebiasaan dalam kondisi macet. Ilustrasi kampas dan pegas diafragma pada kopling mobil manual “Ada juga faktor kenyamanan, di mana pengemudi ingin menjaga laju kendaraan tetap halus tanpa hentakan yang terasa kasar. Hal ini membuat setengah kopling terasa lebih nyaman,” ucap Imun. Namun, di balik kenyamanan tersebut, terdapat dampak teknis yang cukup serius. Setengah kopling menyebabkan gesekan terus-menerus antara kampas kopling dan roda gila. Gesekan ini membuat kampas kopling lebih cepat aus dibandingkan penggunaan normal. Akibatnya, usia pakai komponen menjadi jauh lebih pendek. Selain keausan, panas berlebih juga menjadi masalah utama. Gesekan yang terjadi secara terus-menerus menghasilkan suhu tinggi yang dapat merusak permukaan kopling. “Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menyebabkan kopling selip. Tenaga mesin tidak tersalurkan dengan optimal ke roda, sehingga performa kendaraan menurun,” ucap Imun. Dampak lain yang sering tidak disadari adalah peningkatan konsumsi bahan bakar. Energi dari mesin banyak terbuang sebagai panas akibat gesekan kopling. Ilustrasi tuas transmisi mobil manual “Saat macet, sebaiknya gunakan gigi 1 dan lepaskan kopling sepenuhnya saat mobil mulai berjalan. Jika berhenti, pindahkan ke netral dan injak rem,” ucap Imun. Jaga jarak dengan kendaraan depan agar tidak perlu terlalu sering berhenti. Ini membantu mengurangi kebutuhan setengah kopling pada mobil. “Gunakan kopling hanya saat perpindahan gigi atau saat mulai jalan, bukan untuk menahan laju kendaraan selama mobil merayap,” ucap Imun. Secara keseluruhan, setengah kopling memang terasa praktis di kemacetan, tetapi memiliki konsekuensi besar. Menggunakan teknik berkendara yang benar tidak hanya menjaga komponen tetap awet, tetapi juga membantu menjaga efisiensi bahan bakar. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang