Sepeda motor listrik menawarkan satu keunggulan yang sangat relevan bagi pengemudi ojek online (ojol), yakni biaya operasional yang lebih rendah. Namun, keuntungan tersebut belum cukup untuk membuat pengemudi beralih secara masif dari motor bensin. Managing Director Industrialization Danantara Indonesia Ardy Muawin mengatakan, masalah teknis sempat menjadi salah satu penyebab rendahnya minat pengemudi ojol. Pada masa awal perkembangannya, sejumlah motor listrik dinilai kurang bertenaga ketika digunakan melintasi tanjakan. Ilustrasi ojek online Kapasitas serta daya tahan baterai juga belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pengemudi yang menggunakan motor sepanjang hari. Meski demikian, persoalan tersebut kini mulai diatasi produsen melalui pengembangan teknologi dan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen. Ilustrasi ojek online (ojol). Bukan Cuma Soal Tenaga dan Baterai Persoalan yang dinilai lebih krusial justru datang dari sisi pembiayaan. Berdasarkan masukan yang diterima Danantara dari beberapa operator ride hailing, banyak mitra pengemudi kesulitan memperoleh fasilitas kredit untuk membeli motor listrik. Salah satu kendalanya adalah proses verifikasi melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Padahal, pengemudi yang aktif bekerja setiap hari dan memiliki performa baik dinilai memiliki potensi risiko kredit yang rendah. Danantara menilai skema pembiayaan perlu disesuaikan dengan karakteristik pengemudi ojol. Salah satunya melalui cicilan harian dan sistem penonaktifan kendaraan secara otomatis apabila terjadi tunggakan. Seorang driver ojek online mengganti baterai motor listrik di salah satu SPKLU di SPBU MT Haryono nya bisa kita turunkan, sehingga harapannya cost of money bisa rendah, sehingga kita akan menstimulasi demand dari sisi teman-teman konsumen," ujar Ardy saat ditemui di Jakarta, beberapa waktu lalu. Seperti diketahui, persoalan bunga juga menjadi tantangan. Kredit sepeda motor saat ini disebut dapat dibebani bunga sekitar 30-40 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kredit mobil yang berada di kisaran 12 persen. Untuk mengatasinya, Danantara menggandeng Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) guna menyusun skema pembiayaan yang lebih terjangkau. Mengecas Maka Cavalry dengan fasilitas fast charging di diler Maka Motors. Operasional Hemat, tapi Ada Catatan Padahal, secara operasional motor listrik berpotensi memberikan penghematan cukup besar. Berdasarkan riset Danantara, biaya harian pengemudi dapat dipangkas sekitar Rp 10.000 hingga Rp 20.000 dibandingkan motor bensin. Dengan asumsi 25 hari kerja dalam sebulan, penghematan tersebut bisa mencapai sekitar Rp 500.000 per bulan. Namun, penghematan biaya operasional belum otomatis menghilangkan kekhawatiran konsumen. Pengamat otomotif Yannes Martinus mengatakan, bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, sepeda motor juga merupakan aset yang dapat dijual kembali ketika membutuhkan uang. Booth motor listrik Pacific di GIIAS 2025 Masalahnya, pasar motor listrik bekas belum terbentuk kuat dan nilai jual kembali kendaraan masih belum pasti, terutama karena kondisi baterai sangat menentukan harga.