Skema pembiayaan sepeda motor listrik saat ini makin menggiurkan. Berbagai stimulus hingga subsidi potongan uang muka membuat cicilan bulanan motor listrik kini bisa sejajar, bahkan lebih terjangkau dibandingkan motor bermesin bensin. Salah satu contohnya terlihat pada skema kredit Polytron Fox 350. Motor listrik bongsor ini dibanderol dengan harga on the road (OTR) Rp 22.500.000. Lewat subsidi Rp 6,5 juta yang langsung memotong besaran uang muka, konsumen cukup menyerahkan DP sebesar Rp 2 juta saja. Cicilan terendahnya bahkan menyentuh angka Rp 498.000 per bulan untuk tenor 35 bulan dengan DP Rp 7,5 juta (setelah subsidi). Jika dikombinasikan dengan biaya sewa baterai sebesar Rp 200.000 per bulan dan biaya daya harian, total biaya operasionalnya hanya sekitar Rp 8.838 per hari. Angka ini jauh lebih murah ketimbang mengoperasikan motor bensin kelas 150 cc. Exotic Sprinter AT jadi motor listrik termurah di GIIAS dengan banderol Rp 9,9 juta. Dilema Nilai Agunan dan Pasar Bekas Lantas, mengapa penetrasi motor listrik belum selaris hitungan matematikanya? Pengamat Otomotif Yannes Martinus menilai ada faktor keuangan masyarakat serta perhitungan risiko lembaga pembiayaan. Bagi kelompok menengah ke bawah, sepeda motor bukan sekadar alat transportasi harian atau sarana mencari nafkah, melainkan aset ekonomis yang harus bisa dicairkan cepat saat membutuhkan dana darurat. "Nilai jual kembali masih menjadi kendala paling krusial karena motor sering dianggap aset yang bisa dicairkan cepat, sementara pasar bekas belum dalam dan belum ada standar sertifikasi kesehatan baterai yang dipercaya," ujar Yannes saat dihubungi Kompas.com belum lama ini. Ketiadaan pasar bekas yang likuid ini berdampak langsung pada penilaian risiko pihak multifinance saat mengeksekusi kredit. "Perusahaan pembiayaan menetapkan DP, bunga, dan tenor berdasarkan nilai agunan yang bisa dieksekusi kalau macet. Tanpa pasar bekas yang likuid, unit tarikan tidak punya harga. Konsekuensinya multifinance menolak, atau menuntut DP dan bunga yang lebih tinggi," jelas Yannes. Diskon Harga Belum Cukup Kondisi inilah yang membuat skema pembiayaan motor listrik masih membentur tembok. Pemberian diskon atau subsidi harga di awal dinilai belum menyelesaikan akar masalah jika ekosistem purna jual dan kepastian harga bekasnya belum terbentuk matang. "Jadi meskipun harga sudah mendekati bahkan setara motor bensin, cicilan efektifnya tetap lebih mahal. Kendala pengikatnya berpindah dari konsumen ke pemberi kredit, dan ini tidak bisa diselesaikan dengan potongan harga," pungkasi Yannes.