— Salah satu karakter yang paling mudah dirasakan saat mengendarai motor listrik adalah respons gasnya. Begitu selongsong gas diputar, motor bisa langsung melaju tanpa menunggu putaran mesin naik atau melakukan perpindahan gigi. Hendro Sutono, pegiat kendaraan listrik sekaligus Admin KOSMIK Indonesia, menjelaskan, karakter tersebut berasal dari kemampuan motor listrik menghasilkan torsi sejak awal. "Pada motor bensin, untuk mencapai tarikan maksimal, kita harus menunggu putaran mesin naik perlahan dan memindahkan gigi transmisi," kata Hendro dalam penjelasannya, Rabu (16/9/2026). BLDC alias dinamo jenis Hub-drive pada motor listrik "Sedangkan pada motor listrik, daya dorong atau torsi maksimal sudah tersedia penuh sejak milidetik pertama dimmer gas diputar," katanya. Motor penggerak Hendro menjelaskan, konstruksi motor listrik berbeda dari motor bensin. Salah satu yang umum digunakan adalah sistem hub drive, yakni motor penggerak yang berada langsung di roda. "Pada banyak model, motor penggerak dipasang menyatu di dalam velg roda belakang (hub drive)," katanya. "Putaran dari dinamo langsung memutar roda tanpa memerlukan perantara rantai maupun sabuk v-belt, sehingga membebaskan pemiliknya dari rutinitas melumasi rantai yang kotor," ujarnya. Tampilan motor konversi dengan Mid Drive masih seperti motor standar. Karena beberapa komponen bawaan seperti CVT, arm, dan sokbreker masih dipakai. Selain hub drive, ada pula yang menggunakan sistem mid drive, dengan motor penggerak ditempatkan di tengah rangka. "Namun, ada pula model yang menempatkan motor di tengah rangka (mid drive), menyalurkan tenaga ke roda belakang melalui sabuk karet yang senyap," katanya. "Desain ini dirancang khusus untuk membagi keseimbangan bobot secara merata, sangat ideal bagi mereka yang gemar touring melibas rute menanjak," ujarnya. Isi baterai Motor listrik juga memiliki kemampuan yang tidak ditemukan pada sebagian besar motor bensin, yakni pengereman regeneratif. Sistem ini memungkinkan sebagian energi dari gerakan motor saat melambat diubah kembali menjadi energi listrik. Baterai motor listrik Gesits Raya G, yang jadi salah satu contoh baterai litium. "Ketika gas dilepas, putaran dinamo secara otomatis berbalik fungsi menjadi generator mini," kata Hendro. "Generator yang diputar oleh dorongan sisa laju roda ini tidak hanya membantu melakukan pengereman alami (engine brake), tetapi juga mendaur ulang energi gerak tersebut menjadi arus listrik yang dikirimkan kembali ke dalam tangki baterai," ujarnya. Hendro menjelaskan energi yang dikembalikan ke baterai memang tidak menggantikan kebutuhan pengisian daya dari sumber listrik. Namun, sistem tersebut dapat memanfaatkan sebagian energi yang biasanya terbuang saat kendaraan melambat.