Jetour T2 Fenomena perang harga mobil di Indonesia semakin terasa sepanjang 2024 hingga 2025, terutama di segmen SUV dan kendaraan elektrifikasi. Banyak merek menurunkan harga untuk mengejar penjualan, sehingga persaingan semakin ketat. Kondisi ini memaksa produsen menentukan strategi agar tidak terjebak dalam persaingan yang bisa menekan keberlanjutan bisnis. Di tengah dinamika tersebut, Jetour menegaskan tidak akan mengikuti praktik perang harga yang sedang marak. Caroline menjelaskan bahwa fokus utama Jetour adalah menghadirkan produk yang paling sesuai kebutuhan konsumen Indonesia. Ia menekankan bahwa harga untuk model PHEV merupakan harga indikatif dan bukan strategi banting harga. Vice President PT Jetour Sales Indonesia, Caroline Ling (tengah) “Kami ingin membawa model terbaik yang paling cocok dan memberikan manfaat bagi konsumen di Indonesia,” katanya. Caroline menegaskan bahwa perusahaan tidak ingin mengorbankan kualitas demi kompetisi harga. Ia juga menyoroti keputusan Jetour saat meluncurkan T2 bermesin ICE, yang dipasarkan dengan harga terendah secara global. “Ini adalah harga spesial karena kami datang untuk Indonesia, sehingga harga di sini menjadi yang paling rendah di seluruh dunia,” tuturnya. Marketing Director PT Jetour Motor Indonesia, Moch. Ranggy Radiansyah, mengatakan bahwa Jetour mengedepankan diferensiasi produk. Ia menilai perang harga memang menunjukkan pasar bergerak positif, tetapi bukan strategi yang ingin mereka tempuh.“Kami memutuskan untuk tidak masuk perang harga dan tetap menawarkan produk yang sepadan nilainya,” jelasnya. Menurutnya, konsistensi kualitas dan layanan menjadi kunci agar Jetour dapat bersaing tanpa harus menurunkan harga secara agresif.Ranggy juga menyebut bahwa Jetour memberikan penawaran terbaik untuk Indonesia dengan harga lebih rendah dibandingkan negara lain. Ia mencontohkan harga Jetour di Meksiko bisa mencapai Rp600 jutaan, sedangkan Malaysia menawarkan harga indikatif di atas Rp700 juta.Penyesuaian harga ini disebut sebagai bentuk apresiasi Jetour kepada konsumen Indonesia. Menurut Ranggy, langkah tersebut tetap selaras dengan prinsip Jetour yang tidak ingin masuk ke perang harga.