Pengujian Wuling Darion PHEV dalam program Electrification Journey 2026 berlanjut usai baterai kembali terisi penuh setelah melakukan pengisian di awal perjalanan. Beda dari sebelumnya, kali ini saya melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta dengan membawa empat orang dewasa. Secara kasar, bobot penumpang dan barang bertambah menjadi 264 kilogram (kg). Kondisi bahan bakar di awal perjalanan masih terisi penuh karena sama sekali tidak terpakai. Sementara biaya pengisian daya baterai di tahap awal dengan SPKLU DC 50 kW sebesar Rp 30.570. Sekadar informasi, pengujian Wuling Darion PHEV Jakarta-Yogyakarta-Jakarta memang hanya mengandalkan satu kali pengisian bahan bakar penuh di awal perjalanan. Namun, untuk baterai, diperbolehkan mengisi beberapa kali saja. Tujuannya bukan karena tidak yakin sampai, tapi sekaligus untuk membuktikan klaim pabrikan soal jarak tempuh kendaraan dalam kondisi hanya menggunakan mode EV Max, yang mengandalkan motor listrik dari daya baterainya tanpa keterlibatan mesin bensin. Transisi Seperti dijelaskan sebelumnya, Wuling membekali Darion PHEV dengan baterai 20,5 kWh Lithium Iron Phosphate (LFP). Klaimnya, dengan hanya mengandalkan daya baterai, MPV keluarga yang dipasarkan mulai Rp 449 juta on the road (OTR) Jakarta tersebut, mampu melaju hingga 125 km berdasarkan pengujian China Light-Duty Vehicle Test (CLTC). Hasilnya sudah saya bahas singkat di artikel sebelumnya. Meski tak sesuai karena ada kemungkinan faktor kondisi jalan, gaya berkendara, dan lain sebagainya, namun Darion PHEV mampu berjalan lebih dari 110 kilometer menggunakan mode EV Max. Wuling Darion PHEV Dalam kondisi baterai yang kembali terisi penuh, perjalanan kembali dilanjutkan. Seperti di awal, berkendara pada kecepatan konstan yang bermain di kisaran 80 kpj sampai 100 kpj masih saya terapkan, hanya saja kini bobot bertambah dengan adanya satu penumpang lagi. Setelah satu jam lebih berkendara, dengan jarak tempuh mendekati 110 km dari pemberhentian awal, indikator baterai mulai terpantau mengalami penurunan. Tak butuh waktu lama, mesin bensin langsung mengambil alih. Pada momen transisi motor listrik dan mesin bensin terjadi, jujur prosesnya sedikit mengagetkan karena suara deru mesin 1.500 cc cukup terasa. Wuling Darion PHEV Kurang lebih gambarannya seperti rpm yang naik tinggi ketika pedal gas diinjak dalam kondisi mobil berhenti. Setelah menempuh jarak 468 km memasuki ruas Tol Semarang-Solo dengan kondisi jalan menanjak dan berkelok, tercatat sisa jarak tempuh indikator bahan bakar pada MID turun menjadi 724 km, atau MPV ini masih mampu menempuh perjalan sejauh itu dengan mengandalkan mesin bensin. Ada hal yang menarik, meski dimensinya cukup panjang dan punya desain boxy, namun Darion PHEV masih sangat nyaman bermanuver di jalur berkelok pada kecepatan di atas 50 kpj. Bisa dibilang gejala body roll-nya sangat minim, bikin penumpang baris kedua tetap nyaman menikmati perjalanan. Wuling Darion PHEV Pengisian baterai kembali saya lakukan bersama di rest area Pendopo 456, dan kemudian perjalanan berlanjut ke penginapan di Yogyakarta. Hasil Akhirnya tiba di Yogyakarta, setelah melewati kemacetan jalur arteri Jogja-Solo. Berdasarkan MID sisa jarak tempuh bensin Darion PHEV 718 km. Hal ini karena usai melakukan pengisian daya, mode EV Max kembali saya gunakan. Esok hari, bersama tiga rekan lainnya saya langsung tancap gas balik ke Jakarta, tanpa mengisi bensin lagi. Sementara jarak tempuh selama perjalanan awal dan sedikit jalan-jalan di Kota Gudeg tersebut, mencapai 686,5 km. Perjalanan balik diputuskan hanya satu kali pengisian daya saja. Prosesnya dilakukan ketika masuk ruas Tol Batang, yakni di rest area 389 B arah Jakarta. Wuling Darion PHEV Setelah baterai kembali terisi penuh, dengan durasi sekitar 40 menit, perjalanan langsung berlanjut sampai ke titik awal, yakni di Palmerah, Jakarta Barat. Hampir tak ada kendala selama perjalanan. Sementara ritme kecepatan sedikit ditingkatkan dengan mode berkendara normal. Efeknya, berpengaruh pada baterai yang cenderung lebih boros. Setelah baterai habis, sisa perjalanan sepenuhnya mengandalkan tenaga mesin bensin sampai akhirnya tiba di tujuan. Berdasarkan trip meter, total perjalanan saya dari Jakarta ke Yogyakarta hingga kembali ke titik awal tercatat 1.222 km. Untuk konsumsi rata-rata bahan bakar kombinasi per 50 km terakhir 3,9 liter per 100 km, atau sekitar 25,6 km per liter. Wuling Darion PHEV Dari hasil pengereman regeneratif, masih ada sisa baterai untuk menempuh perjalanan 4 km. Sementara untuk bensin, dari awal tanpa pengisian ulang selama perjalanan, masih bisa berjalan sejauh 211 km. Epilog Ada hal menarik dari pengalaman ini, untuk sebuah MPV dengan dimensi boxy, ternyata Darion PHEV memiliki efisiensi bahan bakar yang cukup baik dalam perjalanan jarak jauh. Kemampuan jelajah menggunakan daya dari baterai dan motor listriknya, bagi saya juga cukup membantu menekan penggunaan BBM. Dengan baterai yang terisi penuh, rasanya cukup mengakomodir penggunaan di dalam kota. Pastinya hal ini akan membuat mobil juga jarang mampir ke SPBU. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang