Pemerintah Indonesia kembali serius menggodok program kendaraan nasional, baik untuk mobil nasional (Mobnas) maupun motor listrik nasional (Molinas). Di balik ambisi besar tersebut, peta jalan (roadmap) produksi dirancang secara bertahap dengan berkaca pada pengalaman negara tetangga. Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, menjelaskan bahwa proses melahirkan merek kendaraan nasional tidak bisa instan. Pemerintah bahkan menjadikan perjalanan sejarah jenama regional sebagai acuan penting dalam merumuskan strategi industri dalam negeri. Belajar dari Malaysia Menurut Setia, merintis industri otomotif nasional membutuhkan proses panjang yang dilalui secara konsisten. Ia mencontohkan bagaimana langkah awal yang ditempuh negara tetangga saat pertama kali membangun industri kendaraan kebanggaan mereka. "Kami sampaikan terkait dengan Mobnas ataupun Molinas. Jika diperkenankan, kami memberi contoh terkait dengan apa yang dilakukan oleh negara tetangga ketika mereka menginisiasi Proton pertama kali sebagai mobil nasional itu di tahun '91, itu sifatnya baru CKD saja dengan merek Mitsubishi, bawa bulat-bulat ganti emblem," ujar Setia dalam rapat dengar pendapat Panja Komisi VII DPR RI (9/9/2026). Ilustrasi mobil nasional Timor Dari langkah awal yang sederhana tersebut, butuh waktu panjang hingga akhirnya mereka benar-benar mandiri secara teknologi. Hal serupa juga terlihat pada perkembangan jenama otomotif jiran lainnya. "Di tahun '91 mereka butuh waktu 20 tahun untuk melakukan desain sendiri sampai itu full manufacturing sendiri di Proton. Begitu juga Perodua mulai di tahun '93/'96 itu membawa nama brand Daihatsu, baru 10 tahun kemudian mereka baru berhasil mendesain," kata dia. Dukungan Penuh Regulasi dan Insentif Pemerintah Berkaca dari pengalaman empiris tersebut, Kementerian Perindustrian menyatakan komitmen penuh untuk mengawal penugasan program mobil nasional yang kini diamanahkan kepada PT Pindad dan PT Len Industri. Proyek mobil nasional I2C yang digarap oleh PT Teknologi Militer Indonesia (TMI) Dukungan ini tidak hanya sebatas restu, tetapi juga mencakup ekosistem regulasi yang berkesinambungan. Peran pemerintah dipastikan hadir untuk memperkuat fondasi industri agar rantai pasok lokal bisa ikut tumbuh bersamaan dengan kematangan teknologi pabrikan dalam negeri. "Jadi bagi kami, jika pemerintah sudah menargetkan untuk menyiapkan mobil nasional atau motor listrik nasional, sudah seyogianya kami juga harus mendukung itu sepenuhnya, baik di sisi regulator ataupun regulasi ataupun nanti insentif yang akan diberikan," kata Setia.