Di website Ferraroi, besar-besar tertulis MADE IN MARANELLO, lalu dilanjutkan dengan kalimat “Engineered, developed and manufactured in Maranello – the home of Ferrari expertise and excellence”. Dari sudut pandang branding dan public relation, pernyataan ini bisa dibaca sebagai semacam titik sensitif. Tujuannya jelas…, Ferrari ingin menegaskan bahwa mobil tersebut benar-benar lahir dari Maranello, kota yang selama puluhan tahun dianggap sebagai tanah suci Ferrari. Pesan yang ingin dibangun kurang lebih bahwa “Luce bukan EV generik”, “bukan hasil outsourcing teknologi”, “bukan mobil yang sekadar ditempeli badge Ferrari2, dan “mobil ini benar-benar dibuat oleh orang-orang Ferrari sendiri”. Dengan pendekatan Corporate Identity Theory (Balmer & Greyser), hal ini bisa dipahami sebagai upaya menjaga konsistensi antara who we are dan how we are perceived. Maka, deklarasi “Made in Maranello” berfungsi sebagai penguatan identity anchor (asal-usul sebagai inti identitas), sekaligus mencegah identity drift ketika produk bergeser dari ICE ke EV. Dalam konteks Ferrari, Maranello bukan sekadar lokasi, melainkan DNA brand itu sendiri. Deklarasi ini juga bagian dari strategi defensive branding dan authenticity signaling. Bukan sekadar bentuk kebanggaan, melainkan upaya Ferrari mengunci ulang identitas di tengah transisi besar menuju elektrifikasi. Karena Luce adalah EV pertama mereka, Ferrari menyadari banyak tifosi mulai meragukan, “Apakah ini masih Ferrari?” Maka, penegasan seperti “Engineered, developed and manufactured in Maranello” menjadi cara untuk meyakinkan publik bahwa DNA Ferrari tetap utuh di dalamnya. Namun, narasi tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh Luca Cordero di Montezemolo, mantan chairman Ferrari pada era modern glory (1991–2014), yang justru menjadi salah satu pengkritik paling vokal. Ia dulu dekat dengan keluarga Agnelli (Fiat Group) sebelum akhirnya memimpin Ferrari. Di bawah kepemimpinannya, Ferrari mencapai era kejayaan di F1 bersama Michael Schumacher dan memperkuat citra mesin V12/V8 sebagai inti emosional brand. Montezemolo dikenal sangat heritage-driven. Menempatkan eksklusivitas, suara mesin, dan karakter emosional sebagai inti Ferrari. Setelah keluar dari perusahaan, ia kerap mengkritik arah Ferrari yang dinilai terlalu jauh ke elektrifikasi dan perubahan identitas brand. Dalam pandangannya, EV berpotensi mengikis jiwa Ferrari yang selama ini dibangun. Ferrari Luce sendiri merupakan interpretasi awal Ferrari terhadap era elektrifikasi, sebuah langkah besar dari mesin pembakaran internal menuju platform listrik. Mobil ini tidak hanya diposisikan sebagai produk baru, tetapi juga sebagai pernyataan arah masa depan Ferrari. Ingin tetap mengusung performa tinggi, namun dengan teknologi powertrain yang sepenuhnya berbeda. Secara desain dan positioning, Luce mencoba menjembatani identitas klasik Ferrari dengan bahasa desain EV yang lebih bersih, aerodinamis, dan futuristik. Namun di titik inilah perdebatan muncul. Sebagian melihatnya sebagai evolusi yang tak terhindarkan, sementara sebagian lain menilai Ferrari sedang menguji batas DNA emosional yang selama ini melekat pada brand tersebut. Karena itu, Luce bukan hanya soal spesifikasi teknis, tetapi juga soal legitimasi. Pertanyaan besarnya muncul, “Apakah sebuah Ferrari masih terasa seperti Ferrari ketika suara mesin, getaran, dan karakter mekanisnya mulai digantikan oleh motor listrik yang senyap?” Montezemolo sendiri merespon cukup keras terhadap Ferrari Luce. Selasa kemarin, 26 Mei 2026, ia berkata, “Jika saya mengatakan apa yang benar-benar saya pikirkan, saya akan menyakiti Ferrari. Ada risiko menghancurkan sebuah mitos,” ucapnya. Ia juga menyindir, “Saya berharap setidaknya logo kuda jingkrak Ferrari dilepas dari mobil itu.” Dan kritik paling tajamnya, “Setidaknya mobil ini tidak akan ditiru oleh China.” Kritiknya bukan hanya soal mobil listriknya, tetapi lebih pada arah desain dan identitas Ferrari yang menurutnya terlalu jauh dari DNA klasik. Banyak penggemar juga menilai Luce lebih mirip crossover futuristik atau EV premium biasa dibanding Ferrari tradisional. Menariknya, Montezemolo memang sudah lama bersikap kritis terhadap elektrifikasi Ferrari. Bahkan beberapa tahun lalu ia pernah mengatakan bahwa Ferrari seharusnya tidak membuat mobil listrik, dan bahwa ia “tidak akan mengendarainya bahkan jika dibius.” Kerasss!!!