Insiden kecelakaan fatal yang melibatkan angkutan umum berbasis listrik kembali menjadi sorotan tajam. Buntut dari kecelakaan KRL dengan taksi listrik Green SM dan banyaknya insiden lainnya, tak sedikit masyarakat yang mempertanyakan kemampuan berkendara dari para sopirnya. Kasus ini pun membuka ruang diskusi publik mengenai standardisasi rekrutmen serta kompetensi para pengemudi taksi daring, khususnya yang mengoperasikan armada bertenaga baterai. Sorotan ini bukan tanpa alasan, mengingat karakteristik kendaraan listrik (EV) memiliki respons torsi instan yang berbeda jauh dengan mobil konvensional bermesin bensin. Kondisi tersebut dinilai memerlukan keahlian khusus serta adaptasi yang matang dari balik kemudi. Jika tidak diimbangi dengan literasi berkendara yang mumpuni, risiko terjadinya fatalitas di jalan raya akan semakin meningkat. Menanggapi fenomena ini, regulator berwenang segera melakukan investigasi mendalam guna mencari akar permasalahan. Pada temuan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait kecelakaan tersebut, ternyata edukasi teknis soal kendaraan juga minim dilakukan oleh perusahaan. Pihak manajemen dinilai kurang memberikan pembekalan yang komprehensif mengenai pengenalan fitur dan instrumen penting pada mobil listrik kepada para mitranya. Kelemahan dalam proses induksi teknis armada baru ini pun dibeberkan secara rinci dalam evaluasi resmi bersama jajaran legislatif. Kondisi taksi Green yang mengalami kecelakan belum dievakuasi, Selasa (28/4/2026). Apa Itu Green SM? Taksi Listrik Vietnam yang Jadi Sorotan "Pelatihan mencakup cara menghidupkan mobil, cara parkir, lampu indikator, knop transmisi, serta penggunaan sabuk pengaman. Knop lampu indikator pada saat siang hari susah dilihat," ujar Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT, dalam rapat kerja bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Komisi V, belum lama ini. Menyikapi temuan serta teguran keras dari KNKT, pihak manajemen operator taksi listrik tersebut langsung mengambil langkah taktis. Perusahaan menyadari bahwa aspek keselamatan (safety) tidak boleh dikompromikan dan memerlukan intervensi serius dari para ahli keselamatan jalan raya demi mengembalikan kepercayaan publik. Deny Tjia, Managing Director of Green SM Indonesia, mengatakan, selain program pelatihan internal, Green SM baru-baru ini bekerja sama dengan Korlantas Polri untuk menyelenggarakan program pelatihan lanjutan. Kolaborasi ini diharapkan mampu memberikan pembekalan yang lebih komprehensif, baik dari sisi regulasi lalu lintas maupun praktik berkendara defensif. Armada Green SM di KCIC Langkah strategis ini dirancang sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan dalam menciptakan ekosistem transportasi publik yang aman dan nyaman. "Bertujuan untuk memperkuat keterampilan berkendara yang aman serta meningkatkan kesadaran akan keselamatan lalu lintas di kalangan pengemudi," ujar Deny, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Ke depan, program edukasi komparatif dan aplikatif ini diproyeksikan akan menjadi standar wajib bagi seluruh armada yang beroperasi. "Kami akan terus mengevaluasi dan memperkuat proses pelatihan, pengawasan, dan operasional kami guna semakin meningkatkan kualitas dan keselamatan layanan kami," kata Deny. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang