Bisnis parkir kerap dianggap sebagai usaha yang mudah dan menguntungkan. Cukup menyediakan lahan, mengatur kendaraan yang keluar-masuk, kemudian menarik tarif parkir. Anggapan tersebut membuat bisnis parkir terlihat sederhana di mata masyarakat umum. Namun di balik uang yang masuk dari setiap kendaraan, terdapat berbagai biaya yang harus dikeluarkan operator. Ketua Indonesia Parking Association (IPA) Rio Octaviano mengatakan, masih ada pihak yang melihat bisnis parkir hanya dari sisi pendapatan tanpa memperhitungkan biaya yang harus dikeluarkan. "Kadang ada oknum yang berpikiran bisnis parkir ini duit banyak, akhirnya malah merusak ekosistem bisnis," kata Rio kepada Kompas.com, Sabtu (22/8/2026). Sistem parkir pintar eNOS dirancang untuk memberikan pengalaman parkir yang benar-benar tanpa sentuhan. Tiga skema bagi hasil Dalam kerja sama antara operator parkir resmi dan pemilik lahan atau landlord, terdapat beberapa skema pembagian hasil. 1. Nett Revenue Share Dalam skema ini, pemilik lahan memperoleh sekitar 30-40 persen dari Nett Revenue. Artinya, pembagian dilakukan setelah Gross Revenue dikurangi pajak parkir, tetapi sebelum biaya SDM, amortisasi investasi, dan biaya operasional dikurangi. 2. Nett Profit Share Pada metode ini, seluruh biaya diperhitungkan terlebih dahulu. Setelah Nett Revenue dikurangi biaya SDM, amortisasi investasi, dan biaya operasional, diperoleh Nett Profit Share. Dari nilai tersebut, pemilik lahan mendapatkan porsi sekitar 90-99 persen sesuai kesepakatan. 3. Guaranteed Income Dalam metode ini, pemilik lahan mendapatkan pendapatan dengan nominal tertentu yang sudah disepakati dalam perjanjian kerja sama. Dengan demikian, pendapatan pemilik lahan tidak dihitung berdasarkan persentase Nett Revenue atau Nett Profit Share, melainkan berdasarkan nilai yang sudah dijamin. Area parkir mobil bagi pengunjung PRJ 2026 Uang parkir Dalam bisnis parkir resmi, pendapatan yang diterima dari pengunjung disebut Gross Revenue. Angka ini merupakan seluruh pendapatan kotor yang diperoleh dari aktivitas parkir. Namun, kata Rio, Gross Revenue bukan berarti keuntungan yang bisa langsung dibagi antara operator dan pemilik lahan atau landlord. Gross Revenue perlu dikurangi pajak parkir sebesar 10 persen. Setelah pengurangan tersebut, diperoleh Nett Revenue. Rumus sederhananya yaitu Nett Revenue = Gross Revenue - Pajak Parkir Setelah itu, masih ada biaya lain yang harus diperhitungkan sebelum menentukan keuntungan. Biaya tersebut antara lain mencakup sumber daya manusia (SDM), amortisasi investasi, serta biaya operasional. Jika seluruh biaya tersebut dijumlahkan, nilainya menjadi total biaya yang harus dikeluarkan operator. Parkir motor di TKP Beskalan, tempat parkir yang dikelola oleh Dinas Perhubungan DIY. Rio menerangkan, keuntungan bersih atau Nett Profit Share dapat dihitung dengan rumus: Nett Profit Share = Nett Revenue - Total Biaya Artinya, uang yang terlihat masuk dari mesin atau petugas parkir belum tentu menjadi keuntungan bersih. Biaya Rio menjelaskan, salah satu komponen terbesar dalam bisnis parkir adalah biaya sumber daya manusnia (SDM). Operator membutuhkan petugas untuk mengatur kendaraan, menjaga area parkir, membantu pengguna, hingga memastikan operasional berjalan sesuai prosedur. Semakin besar area parkir dan semakin tinggi aktivitas kendaraan, kebutuhan tenaga kerja juga bisa bertambah. Selain gaji, operator juga perlu memperhitungkan biaya lain yang berkaitan dengan tenaga kerja sesuai kebutuhan operasional. Petugas parkir resmi menata motor yang terparkir di kawasan Alun-alun Kota Bekasi, Senin (9/9/2024). Investasi Bisnis parkir juga membutuhkan investasi. Seperti pemasangan sistem parkir, mesin pembayaran, kamera pengawas, perangkat lunak, perlengkapan operasional, hingga pembangunan atau penataan area parkir. Investasi tersebut tidak selalu langsung habis dalam satu periode. Karena itu, dalam perhitungan bisnis terdapat komponen amortisasi investasi. Dengan kata lain, biaya untuk membangun dan menjalankan sistem parkir juga ikut diperhitungkan dalam menentukan keuntungan. Selain SDM dan investasi, operator masih harus menanggung biaya operasional. Biaya ini dapat mencakup pemeliharaan peralatan, listrik, koneksi sistem, perawatan fasilitas, hingga kebutuhan operasional lainnya. Besarnya biaya tentu berbeda-beda tergantung lokasi, luas area, sistem yang digunakan, serta jumlah kendaraan yang dilayani. Karena itu, lokasi dengan jumlah kendaraan tinggi belum tentu otomatis memberikan keuntungan besar apabila biaya operasional dan investasi yang harus dikeluarkan juga tinggi.