Saat arus mudik Lebaran, rest area di jalan tol sering menjadi titik yang paling ramai. Tak jarang, area parkir penuh hingga antrean kendaraan mengular di pintu masuk. Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan pemudik; benarkah rest area bisa ditutup jika sudah terlalu penuh? Vice President Corporate Secretary & Legal PT Jasamarga Transjawa Tol, Ria Marlinda Paalo, mengatakan bahwa pengelola tol memang dapat melakukan pengaturan hingga penutupan sementara rest area jika kapasitasnya sudah tidak memungkinkan. Menurut Ria, pengaturan tersebut merupakan bagian dari rekayasa lalu lintas, mirip dengan kebijakan one way atau contraflow yang sering diterapkan di jalan tol saat arus mudik. “Nah, sama sebenarnya seperti rekayasa lalu lintas di jalur Tol Jakarta–Cikampek ataupun di jalur yang lain ya, one way, contraflow. Jadi kalau untuk rest area ini kita punya parameter juga,” ujar Ria, kepada Kompas.com (9/3/2026). Ia menjelaskan bahwa pengelola jalan tol memiliki indikator tertentu untuk menentukan kapan rest area sudah terlalu padat. Jika kondisi tersebut terjadi, informasi akan langsung disampaikan kepada pengguna jalan melalui berbagai kanal informasi. Rest Area KM 88B di Tol Purbaleunyi “Ketika rest area sudah cukup penuh, nanti di semua platform informasi kami akan bilang bahwa rest area sudah penuh dan silakan gunakan rest area yang lain,” kata Ria. Namun, keputusan penutupan rest area tidak dilakukan secara sepihak. Pengelola jalan tol akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk memastikan kondisi lalu lintas di lapangan. “Kami pasti akan berkolaborasi dengan kepolisian juga untuk melihat kesesuaian di lapangan. Maksudnya apakah lalu lintas di jalan tol sudah bisa terurai atau seperti apa,” ujarnya. Ilustrasi rest area Jasa Marga Karena itu, jika sampai dilakukan penutupan rest area, langkah tersebut dilakukan melalui prosedur tertentu dan mempertimbangkan kondisi lalu lintas secara menyeluruh. Dalam pengalaman arus mudik sebelumnya, Ria menyebut salah satu lokasi yang paling sering dipadati pemudik adalah Rest Area KM 57 di ruas Tol Jakarta–Cikampek. Menurutnya, lonjakan pengunjung di rest area biasanya terjadi pada waktu tertentu, terutama menjelang waktu berbuka puasa selama bulan Ramadan. Ilustrasi rest area Jasa Marga “Kalau dilihat dari tahun ke tahun, jam ramai saat mudik itu biasanya menjelang Maghrib. Semua orang ingin berbuka puasa, jadi di KM 57 pasti sudah cukup ramai,” ujarnya. Menariknya, meskipun banyak pemudik memilih berangkat malam hari, puncak kepadatan rest area justru sering terjadi pada waktu berbuka puasa hingga sekitar pukul 19.00. “Jam favorit berangkat memang malam, tapi untuk titik-titik penuh rest area biasanya menjelang Maghrib sampai sekitar jam 7 malam,” jelas Ria. Jasamarga Toll Trans Jawa meniagakan 42 rest area di sepanjang Jalan Tol Trans Jawa Karena itu, pengendara diimbau merencanakan titik istirahat sejak sebelum memulai perjalanan agar tidak terjebak rest area yang sudah penuh. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah memanfaatkan aplikasi Travoy, yang menyediakan informasi kondisi rest area dan fasilitas di sepanjang jalan tol. Dengan perencanaan yang baik, pemudik diharapkan tetap bisa beristirahat dengan nyaman tanpa memperparah kepadatan di rest area tertentu. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang