Insiden kecelakaan tunggal hebat yang menimpa supercar McLaren 720S Spider milik YouTuber gaming Febrian Paundra Alditama atau akrab disapa Andra ST di Jalan Raya Telukan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026) dini hari, menjadi sorotan tajam. Benturan keras dengan tiang listrik membuat mobil eksotis bermesin V8 twin-turbo tersebut terbelah menjadi dua bagian. Andra ST memberikan klarifikasi bahwa insiden tersebut murni karena ban belakang mobilnya mengalami selip akibat luapan tenaga yang besar, sehingga kehilangan kendali. Namun, dari kacamata keselamatan berkendara dan teknis kendaraan, sebuah mobil berperforma tinggi (high performance) yang legal di jalan raya sebenarnya dibekali proteksi elektronik berlapis. Pakar keselamatan berkendara sekaligus pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa konstruksi mobil mewah modern sejatinya dirancang untuk menjinakkan tenaga liar mesin. McLaren 720S Coupe "Mobil-mobil mewah itu kan apalagi yang basic-nya kompetisi, mobil high speed, high performance, tapi kalau mobil itu dipergunakan di jalan raya, maka dia punya fitur-fitur safety yang high tech," ujar Jusri, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. "Ya, paling dasar sih basic-nya harusnya ada Electronic Stability Control (ESC). Sehingga, saya agak-agak susah memahami dia slip. Kecuali traction controlnya bisa dimatiin atau dalam kondisi mati gitu kan," kata Jusri. Menurut Jusri, menyalurkan tenaga mesin yang masif ke roda belakang (Rear-Wheel Drive) tanpa kawalan sistem komputer adalah tindakan yang sangat berisiko di jalan umum. McLaren 720S Coupe "Jadi, saya enggak yakin mobil itu slip akibat overpower. Kalau traction control dimatiin terlalu ceroboh dengan power segede itu. Dengan power delivery sebesar itu. Berarti informasi yang disampaikan media, kita bisa melihat ini adalah kecerobohan si mobil. Kecelakaan sendiri diawali dari pelanggaran sudah pasti," ujarnya. Jalan raya memiliki keterbatasan dimensi dan karakteristik permukaan (surface) aspal yang jauh berbeda dibandingkan sirkuit balap yang steril. Karakter aspal jalan umum di Indonesia kerap tidak terduga, mulai dari berlubang hingga bergelombang (bumpy). Ketika supercar dipacu dalam kecepatan tinggi melewati permukaan yang tidak rata, ban akan sangat mudah kehilangan kontak dengan aspal. Jika pada momen tersebut fitur Traction Control atau ESC dinonaktifkan oleh pengemudi, maka gejala oversteer atau selip buritan belakang akan langsung terjadi secara instan dan mustahil untuk dikoreksi secara manual oleh pengemudi biasa di jalan raya.