Peralihan kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) ke kendaraan listrik menjadi salah satu upaya yang dinilai dapat membantu mengurangi konsumsi BBM bersubsidi di Indonesia. Pemerintah memperkirakan keberadaan 11 juta motor listrik nasional (Molinas) yang beroperasi pada 2037 dapat menghemat subsidi BBM hingga sekitar Rp 82,2 triliun. Penghematan tersebut berasal dari berkurangnya konsumsi BBM seiring semakin banyak kendaraan konvensional yang beralih menggunakan energi listrik. Pengamat otomotif Yannes Martinus, mengatakan, elektrifikasi kendaraan memiliki prospek yang cukup kuat sebagai salah satu strategi jangka panjang untuk mengurangi tekanan subsidi BBM sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia. "Elektrifikasi kendaraan menurut saya mempunyai prospek yang cukup kuat sebagai salah satu strategi jangka panjang untuk mengurangi tekanan subsidi BBM sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia," ucapnya kepada Kompas.com, Minggu (30/8/2026). Menurut Yannes, manfaatnya memang tidak akan terasa sekaligus dalam waktu singkat, tetapi arah ekonominya cukup jelas. Semakin banyak kendaraan BBM yang benar-benar digantikan EV, semakin besar potensi pengurangan konsumsi Pertalite dan solar serta kebutuhan impor minyak. Subsidi BBM rencananya akan dicabut pemerintah, apa alasan BBM subsidi dihilangkan? Yannes menjelaskan, dampak elektrifikasi kendaraan tidak hanya berkaitan dengan pengurangan penggunaan BBM. Indonesia juga memiliki peluang untuk mengembangkan industri dalam negeri karena peralihan ke kendaraan listrik dapat berjalan beriringan dengan pengembangan industri baterai dan manufaktur. "Indonesia juga memiliki posisi yang menarik karena elektrifikasi dapat berjalan bersamaan dengan hilirisasi baterai dan penguatan industri manufaktur domestik,” ucapnya. Yannes menilai, manfaat penghematan BBM dapat lebih cepat terlihat apabila elektrifikasi terlebih dahulu menyasar kendaraan dengan tingkat penggunaan yang tinggi. "Pada tahap awal, dampak paling efektif bisa diperoleh dari ojol, logistik, angkutan umum, kendaraan operasional pemerintah, dan armada komersial karena utilisasinya tinggi sehingga penghematan BBM per kendaraan lebih cepat terakumulasi,” ucapnya. Menurut dia, kendaraan dengan penggunaan tinggi seperti ojol, logistik, dan angkutan umum berpotensi lebih cepat menghemat konsumsi BBM. Namun, pengurangan beban subsidi juga perlu didukung infrastruktur charging dan battery swap, bauran energi bersih, serta penguatan industri dalam negeri. "Dalam jangka panjang, kalau pertumbuhan EV diikuti infrastruktur charging dan battery swap, peningkatan bauran energi bersih, lokalisasi industri, serta subsidi energi yang semakin tepat sasaran, manfaatnya bisa berlapis. Bukan hanya membantu mengurangi tekanan fiskal dari BBM saja ya, tetapi juga memperkuat ketahanan energi, mengurangi eksposur terhadap fluktuasi minyak global, dan membangun industri baru yang semakin kompetitif,” ucapnya. Dengan demikian, keberadaan jutaan motor listrik tidak hanya berpotensi mengurangi konsumsi BBM bersubsidi. Jika didukung ekosistem yang memadai, elektrifikasi kendaraan juga dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM dan memperkuat ketahanan energi nasional.