Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali membuat Selat Hormuz menjadi sorotan. Jalur laut sempit yang berada di antara Iran dan Oman tersebut dikenal sebagai salah satu titik paling strategis bagi distribusi energi dunia, khususnya minyak dan gas. Ahli Konservasi Energi dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto Zaenuri, mengatakan Selat Hormuz memiliki peran sangat penting dalam rantai pasokan energi global. Menurut dia, sebagian besar pengiriman minyak dari negara-negara produsen di kawasan Teluk harus melewati jalur tersebut sebelum didistribusikan ke berbagai negara. “Selat Hormuz merupakan salah satu jalur paling vital bagi distribusi energi dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia melewati jalur ini sebelum menuju pasar global,” kata Tri kepada Kompas.com, Kamis (5/3/2026). Tri menjelaskan, setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap stabilitas pasokan energi global. Hal ini karena volume pengiriman minyak yang melintas di jalur tersebut sangat besar setiap harinya. Jika distribusi energi terganggu, maka pasar global biasanya akan merespons dengan kenaikan harga minyak mentah. Dampak lanjutannya bisa dirasakan oleh banyak negara, terutama yang masih bergantung pada impor energi. Peta 8 Negara di Sekitar Selat Hormuz Meski demikian, Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia menegaskan bahwa Selat Hormuz hingga saat ini masih dibuka untuk lalu lintas internasional. Pihak Iran hanya menerapkan protokol khusus bagi kapal yang melintas di kawasan tersebut. “Selat Hormuz tidak ditutup, Selat Hormuz tetap dibuka. Kami yang menyelenggarakan keamanan di selat ini hanya memberlakukan protokol lalu lintas khusus saat-saat perang,” ujar Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohamad Boroujerdi. Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerd, saat ditemui di rumah dinasnya, Jalan Madiun, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2026). Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi dalam waktu dekat. “Untuk harga BBM subsidi, saya pastikan bahwa sampai dengan Hari Raya tidak ada kenaikan apa-apa. Sekali pun terjadi kenaikan harga minyak akibat perang Israel, Amerika, dan Iran,” kata Bahlil. Dengan kondisi tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat menjelang Lebaran. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang