JAKARTA, KOMPAS.com — Penyempitan jalan akibat galian utilitas dan pekerjaan konstruksi masih menjadi pemandangan sehari-hari di kota besar seperti Jakarta. Kondisi ini kerap memicu kemacetan, terutama ketika dua lajur harus menyatu menjadi satu. Pada situasi seperti ini, metode zipper merge dinilai cocok diterapkan untuk menjaga arus lalu lintas tetap mengalir. Proyek galian kabel bawah tanah di Jalan Kartini, Pancoran Mas, Kota Depok, Sabtu (23/8/2025). Metode Zipper Merge Direktur Pelatihan Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) menilai, kondisi jalan di Indonesia sebenarnya sudah sangat memungkinkan untuk menerapkan metode tersebut. “Sebenarnya, kalau bicara di Indonesia, sudah banyak penerapan di lapangan. Sebab, di Indonesia banyak perbaikan jalan atau jalan rusak, sehingga muncul bottleneck, ujar Sony kepada Kompas.com, Minggu (4/1/2026). Kemacetan arus lalu lintas di Jalan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat imbas adanya demonstrasi buruh yang menuntut kenaikan Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta, Senin (29/12/2025) "Bottleneck ini mengakibatkan kendaraan harus bergantian untuk menyatu ke satu lajur. Atau misalnya di jalan yang bersilangan, kendaraan harus kembali ke lajur awalnya,” katanya. Ia menjelaskan, situasi seperti itu sangat sering ditemui, khususnya di wilayah perkotaan. Namun, tantangan terbesarnya bukan pada kondisi jalan, melainkan perilaku pengemudi. Tantangan Perilaku Pengemudi Ilustrasi proyek galian kabel bawah tanah. “Kondisi seperti ini sebenarnya banyak ditemui di Indonesia. Namun, problem utamanya adalah soal etika, ujar Sony. "Ketika pengemudi merasa itu adalah haknya, lalu ada kendaraan dari samping yang ingin masuk, apalagi dalam kondisi macet panjang dan sedang diburu waktu, sementara etika masih kurang, maka metode ini tidak berjalan di Indonesia,” katanya. Menurutnya, kunci utama agar zipper merge bisa berjalan adalah kesadaran dan toleransi antarpengguna jalan. Tanpa itu, metode apa pun akan sulit diterapkan. “Padahal, berlalu lintas itu membutuhkan kesadaran dan toleransi yang tinggi. Bukan berarti di Indonesia tidak ada pengemudi yang bertoleransi, tetapi jumlahnya masih sangat sedikit,” kata Sony. Ia membandingkan dengan negara lain yang sudah lebih dulu menerapkan metode ini, di mana pengemudi sudah terbiasa bergantian tanpa harus diarahkan secara khusus. “Metode ini di negara-negara yang sudah berkembang, atau yang tingkat kepatuhan aturannya sudah tinggi, termasuk negara tetangga, memang sudah diterapkan. Mereka bahkan tidak perlu lagi diatur, karena sudah terbiasa bergantian,” ujarnya. Meski begitu, ia tetap optimistis zipper merge bisa diterapkan di Indonesia, terutama melihat kondisi jalan saat ini yang banyak mengalami penyempitan. “Jadi, dengan kondisi sekarang yang banyak galian jalan, seharusnya metode ini sudah bisa diterapkan. Sudah banyak pengemudi yang bertoleransi, tetapi masih banyak juga yang justru menimbulkan konflik karena tidak mau mengalah,” katanya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang