— Kemacetan kerap terjadi saat dua lajur jalan menyempit menjadi satu. Pada kondisi seperti ini, pengemudi sering saling berebut masuk lebih dulu sehingga memperparah kepadatan. Padahal, ada metode yang bisa membuat arus lalu lintas tetap mengalir, yakni zipper merge. Zipper merge adalah cara penggabungan arus kendaraan dengan prinsip bergantian, seperti gigi resleting. Kendaraan tetap menggunakan kedua lajur hingga mendekati titik penyempitan, lalu masuk satu per satu secara tertib. Metode ini banyak diterapkan di negara maju karena terbukti efektif mengurangi kemacetan. Founder & Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, mengatakan keberhasilan zipper merge sangat bergantung pada sikap pengemudi. “Zipper merge ini landasannya dibangun oleh kesadaran dan empati yang tinggi,” kata Jusri kepada Kompas.com, Minggu (4/1/2026). Kepadatan kendaraan di depan pintu masuk Lemdiklat Polri di Jalan Ciputat Raya pada Selasa (19/8/2025) pagi imbas proyek galian PAM Jaya. Menurut Jusri, penerapan zipper merge bukan soal aturan tertulis, melainkan etika berlalu lintas. “Jadi, ini sebenarnya tidak ada aturannya. Tetapi ini soal etika, yang dibangun dari kesadaran berlalu lintas yang tinggi. Namun, ini belum menjadi kebiasaan, apalagi budaya, bagi pengguna jalan raya di Indonesia,” ujarnya. Tantangannya kesadaran berlalu lintas di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Jusri menyoroti masih banyak pelanggaran yang terjadi di jalan raya. Kemacetan di Jalan Gatot Subroto di depan Mapolda Metro Jaya, Rabu (28/5/2025). “Sayangnya, ini bukan ciri orang Indonesia. Sedihnya, kita masih sering melihat perilaku lain yang seharusnya dibangun berdasarkan aturan dan etika berlalu lintas. Contohnya trotoar yang masih sering dilalui sepeda motor, padahal itu untuk pejalan kaki,” ujarnya. Ia juga menyinggung pelanggaran di jalur khusus. “Kemudian jalur bus TransJakarta yang seharusnya steril dan hanya untuk bus. Namun, dari pelat nomor merah hingga hijau, cokelat, hitam, kuning, semuanya masuk ke jalur tersebut,” katanya. “Kita juga melihat persoalan adab dan etika yang berkaitan dengan aturan, misalnya ambulans yang tidak diberi jalan,” ujar Jusri. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang