Melakukan restorasi pada Vespa klasik dua tak menjadi kepuasan tersendiri bagi para pencintanya. Proses mengembalikan skuter tua agar kembali bugar dan sedap dipandang tentu membutuhkan dedikasi, waktu, dan biaya yang tidak sedikit. Namun, di balik kesenangan tersebut, tersimpan risiko yang mengintai para pemilik skuter, terutama bagi para pemula. Salah memilih tempat perbaikan justru bisa membuat pemiliknya kapok dan menyesal terjun ke dunia skuter besi ini akibat ulah oknum "bengkel nakal". Upscootsale, bengkel spesialis dan jual beli Vespa klasik Kunci Utama Efisiensi Biaya Ade Yusuf, pemilik Upscootsale, bengkel spesialis sekaligus jual-beli Vespa klasik, mengingatkan para pemilik motor agar tidak terburu-buru dalam menyerahkan kendaraannya ke bengkel. Penting bagi konsumen untuk bersikap kritis dan memahami kebutuhan riil dari motornya. "Bijak-bijak pilih bengkel Vespa. Itu yang bikin orang menyesal main Vespa. Saya dapat customer, menghabiskan untuk restorasi sampai Rp 30 juta," ujar Yusuf kepada Kompas.com belum lama ini. Berkaca dari kasus tersebut, Yusuf selalu menekankan pentingnya manajemen bengkel yang transparan serta pemberian edukasi kepada konsumen. Menurutnya, restorasi yang baik tidak harus selalu mengganti seluruh komponen dengan barang baru jika komponen bawaan motor sebenarnya masih layak pakai. "Misal di sini, saya edukasi, selama bisa pakai barang lama, kenapa barang baru, karena efisiensi. Efisiensi itu penting. Manajemen juga penting," kata Yusuf menambahkan. Kisaran Biaya dan Pemicu Harga Naik Ketika ditanya mengenai patokan total biaya untuk membangun satu unit Vespa klasik, Yusuf menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa memberikan angka pasti di awal. Biaya akhir akan sangat bergantung pada tingkat kerusakan bodi dan komponen mesin yang perlu diperbaiki. Namun, sebagai gambaran dasar untuk sektor eksterior, biaya pengerjaan bodi sudah memiliki standarnya sendiri. "Mengecat Rp 5 juta, belum dengan sparepart. Sparepart itu kan menyesuaikan, yang masih bisa dipakai, dipakai. Ngapain masih dipakai diganti," tutur Yusuf. Yusuf juga tidak menampik bahwa biaya pengerjaan restorasi saat ini memang terasa lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun lalu. Kenaikan ini dipicu oleh dua faktor utama, yaitu lonjakan harga material dan penyesuaian biaya jasa pengerjaan. "Kesulitan dan bahan baku pengaruh. Bahan baku cat, semua naik sekarang. Kedua pengerjaan, kebutuhan orang juga naik, tingkat kesulitan dan segala macam. Tapi dijelaskan, karena tergantung pengerjaan. Yang penting masih masuk akal dan ada tahap pengerjaannya, update terus," ucap Yusuf Suku Cadang Melimpah dan Fungsional Meskipun biaya pengerjaan bodi dan cat cenderung naik, para pemilik Vespa klasik saat ini sedikit diuntungkan dengan ketersediaan suku cadang di pasaran. Berbeda dengan dulu di mana mencari komponen sangat sulit, kini ekosistem suku cadang skuter dua tak sudah jauh lebih masif. Untuk komponen-komponen fast moving maupun jeroan mesin, pemilik tidak perlu khawatir akan kelangkaan barang. "Gampang, busi ada di mana-mana, platina, karbu, paking, itu gampang sekarang. Karena toko sparepart Vespa makin banyak," kata Yusuf. Melimpahnya pasokan ini tidak lepas dari peran para importir yang mendatangkan komponen alternatif dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal. Yusuf menyebutkan bahwa komponen baru yang beredar di toko-toko saat ini banyak yang berasal dari India dan Taiwan. "Kualitasnya beda, tapi masih sama, 11-12, fungsional," pungkas Yusuf.