Menjelang mudik Lebaran, menjaga tekanan ban sesuai rekomendasi pabrikan penting untuk mencegah risiko pecah ban saat perjalanan jauh. Tekanan angin yang tidak sesuai standar bisa memicu panas berlebih dan merusak struktur dinding ban. Risiko semakin tinggi saat mobil melaju kencang atau melintasi jalan berlubang, sehingga pengecekan tekanan ban sebelum berangkat wajib dilakukan. Fisa Rizqiano, Deputy Head OE Sales Bridgestone memberikan tips terkait tekanan ban yang aman supaya mencegah pecah ban. Ban segala medan (all terrain) Bridgestone Dueler A/T002 resmi diluncurkan "Angin adalah nyawa dari ban. Menjaga kondisi tekanan angin (ban) bisa mengurangi risiko pecah ban. Bahkan ada baiknya sebelum perjalanan jauh, tekanan angin ditambah 2-3 psi," kata Fisa kepada Kompas.com, belum lama ini. Ia menambahkan, penambahan tekanan angin ban sangat penting untuk mengurangi risiko flexing atau pelenturan berlebihan pada dinding ban, terutama saat mobil digunakan untuk perjalanan jauh seperti mudik Lebaran. Dinding ban berfungsi menopang beban kendaraan, sehingga jika tekanan udara kurang dari standar pabrikan, struktur ban bisa mengalami pelipatan berlebih yang memicu panas berlebih dan meningkatkan risiko pecah ban, terlebih ketika melaju di jalan rusak atau menghantam lubang. "Tambah 2-3 psi tekanan ban membuat lebih aman. Penyetiran akan lebih akurat dan kondisi mobil lebih stabil, apalagi saat penuh penumpang. Mungkin akan terasa sedikit keras," kata Fisa. Sebagai langkah antisipasi, pengemudi disarankan rutin mengecek tekanan ban sebelum berangkat dan menyesuaikannya dengan beban kendaraan agar tetap dalam batas aman. Dengan tekanan angin yang tepat, risiko pecah ban bisa ditekan, mobil lebih stabil dikendalikan, dan perjalanan mudik pun menjadi lebih aman serta nyaman hingga tiba di tujuan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang